Asal Mula Nama Mandailing


Suku Mandailing adalah salah satu suku yang ada di Sumatera Utara. Suku Mandailing memiliki ikatan darah, nasab, bahasa, aksara, sistem sosial, kesenian, adat, dan kebiasaan tersendiri yang berbeda dengan Minang, Batak dan Melayu.
Didalam buku "Sejarah Marga-Marga Asli Di Tanah Mandailing" Karya tulis Mhd. Arbain Lubis tertulis bahwa asal mula nama Mandailing berasal dari bahasa Minangkabau "Mande Hilang" yang berarti "ibu yang hilang"(Dada Meuraxa "Sejarah Kebudayaan Sumatera"). Selanjutanya ada yang mengatakan bahwa ada yang menyangka bahwa nama Mandailing berasal dari perkataan "Mundahilang" yang berarti "Munda yang mengungsi". Dalam hubungan ini disebut bangsa Munda di India pada masa yang silam melakukan pengungsian karena mereka terdesak oleh bangsa Aria. Menurut Prof. Dr. Slametmulyana menjelaskan dalam bukunya " Asal Bangsa dan Bahsa Indonesia" mengatakan sebagai berikut : "Sebelum kedatangan bangsa Aria, bangsa Munda menduduki India Utara. Karena desakan bangsa Aria, maka bangsa Munda menyingkir ke Selatan. Pendudukan bangsa Aria itu terjadi di sekitar tahun 1500 SM. Bangsa Munda pindah ke luar dari daerah India menuju Assam dan Asia Tenggara, setelah terjadi pendudukan lembah sungai Gangga oleh bangsa Aria dalam keseluruhannya".
Pada waktu perpindahan bangsa Munda dari India Utara ke Asia Tenggara oleh karena terdesak dari bangsa Aria, diduga ada sebagian yang masuk ke sumatera. dengan melalui pelabuhan Barus di pantai Barat sumatera mereka meneruskan perjalanannya sampai ke suatu daerah yang kemudian disebut dengan nama Mandailing, yang berasal dari perkataan "Mundahiling" yang berarti "Munda yang mengungsi".
Versi yang lain dari Dada Meuraxa menyatakan pula bahwa ada yang menyebut asal nama Mandailing ialah bermula dari kata Mandalay, yaitu nama sebuah kota yang besar di Burma.
Selanjutnya marilah kita perhatikan pula tulisan seorang anak negeri itu sendiri bernama Mangaraja Lelo Lubis, seperti terlihat dalam bukunya "Sopo Godang Mandailing".
Di dalam buku itu dikemukakan oleh pengarangnya Mangaraja Lelo Lubis bahwa menurut cerita orang-orang tua, nama Mandailing berasal dari perkataan "Mandala Holing". Pada zaman dahulu Mandala Holing adalah sebuah kerajaan yang menguasai daerah mulai dari Portibi di Gunung Tua Padang Lawas sampai ke daerah Pidoli di Mandailing. Semula pusat kerajaan ini terletak di Portibi Gunung Tua, tempat  dimana banyak ditemukan candi-candi purba. Oleh karena serangan Majapahit, kemudian pemerintahan kerajaan tersebut dipindahkan ke Piu Delhi dimana dibelakang hari kota ini dikenal dengan nama "Pidoli" di daerah Mandailing (dekat kota Panyabungan yang sekarang). Terbukti pada masa yang silam di daerah Pidoli ini terdapat juga candi-candi purba. Tetapi candi-candi tersebut dihancurkan oleh pasukan Islam dibawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol ratusan tahun yang lalu. Namun reruntuhan candi-candi yang belum pernah dipugar itu masih membekas dibeberapa tempat seperti di "Saba Biara" Pidoli dan Simangambat, yakni Pidoli terletak di di Kecamatan Panyabungan dan Simangambat Kecamatan Siabu.
Advertisement
"Surat Tumbaga Holing" yang sering disebut-sebut di dalam masyarakat Mandailing hingga sekarang adalah suatu perkataan yang masih dipertanyakan orang, oleh karena maksud ataupun makna yang terkandung di dalamnya masih samar, apalagi suatu keterangan yang memadai apa yang dimaksud dengan "Surat Tumbaga Holing" tersebut sampai sekarang belum diketahui orang. Namun demikian ada juga pendapat sebagian orang-orang tua bahwa Surat Tumbaga Holing ialah surat perjanjian yang dibuat oleh seorang raja di Mandailing dengan Belanda. Kalau memang surat memang surat perjanjian itulah yang dimaksud dengan "Surat Tumbaga Holing" berarti kejadian itu baru lahir pada abad XIX. Rasanya terlalu muda kejadian yang penting itu.
Disamping itu ada pula sebagian orang-orang tua yang menafsirkan "Surat Tumbaga Holing" ini ialah "Surat Emas dari bangsa Keling" maksudnya "surat" atau ayat-ayat yang mengajarkan kebaikan kepada masyarakat di tempat itu pada zaman dahulu. Sesuai dengan agama yang dibawanya yaitu agama Hindu, sudah barang tentu "Surat Tumbago Holing" itu sesuatu surat perjanjian ataupun yang berbentuk undang-undang untuk dihayati yang bersumber dari buku kepercayaan mereka seperti diatas.
Dengan adanya pendapat bahwa dimasa yang lalu terdapat sebuah kerajaan yang bernama Mandala Holing, seperti yang dikemukakan oleh Mangaraja Lelo Lubis dapat pula dihubungkan dengan adanya sebutan "Mandala" pada beberapa pemukiman tua di Aek Marian Mandailing. Misalnya nama pemukiman nenek moyang marga Rangkuti dan Parinduri yakni Datu Janggut Marpayung Aji bernama "Mandala Sena"
Dari beberapa pendapat para ahli seperti yang di kemukakan terdahulu, masih ada lagi keterangan yang lain yang dikemukakan oleh Mangaraja Lelo Lubis tentang asal usul nama Mandailing dalam bukunya "Sopo Godang" yaitu bahwa nama Mandailing berasal dari perkataan "Mandala Holing". Dikatakan pada suatu ketika di zaman dahulu disaat bangsa Melayu memasuki daerah ini mereka tidak lagi menemukan orang-orang Mandala (Koling), maksudnya orang-orang keling dan sudah pergi ketempat lain. Oleh karena itu orang-orang Melayu tersebut mengatakan orang itu "Mandala Hilang". Kemudian lama-kelamaan sebutan itu berubah menjadi "Mandailing".

Sumber :"Sejarah Marga-Marga Asli Di Tanah Mandailing" Karya tulis Mhd. Arbain Lubis 
Share on Google Plus

About Bacaan madani

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

2 komentar :