Tiga Macam Model Ikhlas Orang Yang Beribadah


Ikhlas dalam beribadah kepada Allah Swt. jika dicermati secara mendalam sesungguhnya menjadi keharusan bagi kita. Sebagai makhluk Allah, kita diciptakan di dunia ini semata-mata untuk beribadah kepada-Nya. Kita tidak diperintahkan untuk menyekutukan Allah dan berbuat maksiat. Akan tetapi, ibadah yang kita kerjakan masih belum sempurna jika tidak dilakukan dengan ikhlas. Dari sini dapat dipahami bahwa nilai ibadah tidak hanya diukur dari kuantitas yang telah dilakukan, tetapi dari kualitasnya. Di antara kualitas ibadah yang paling utama adalah keikhlasan untuk mencari rida Allah Swt. firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an,

Artinya: "Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)." (Q.S. al-Bayyinah : 5)

Seseorang yang melaksanakan ibadah secara ikhlas berarti juga telah menjalankan ajaran agama yang hanif (lurus). Ajaran agama mengajak manusia untuk selalu menjalankan kebenaran dan tidak berpaling kepada yang salah. Melakukan segala sesuatu yang berkaitan dengan kebaikan dan mencari kebenaran dengan dasar niat karena Allah Swt., sejatinya merupakan ibadah kepada-Nya. Oleh karena itu, setiap kali kita melakukan kebaikan, hendaknya dengan tujuan mencari rida Allah Swt.

Ada tiga macam atau model cara seseorang memosisikan Allah swt. Ketiganya terefleksikan di dalam menjalankan perintah-perintah-Nya serta menjauhi segala yang dilarang-Nya. Bahasa gampangnya, itu semua dapat dilihat dari ibadah sehari-hari seseorang.

Kita akan melihat bagaimana posisi ikhlas masuk dibalik ketiga macam model tersebut. adapun tiga model yang dimaksud adalah sebagai berikut,

1. Ibadah Seorang Hamba 
Hamba atau budak dalam bahasa Arab disebut ‘abdun(budak laki-laki) atau ‘amatun (budak perempuan). Kata ini satu akar dengan kata ‘ibad atau ‘ibadah, sehingga ibadah dapat diartikan sebagai ekspresi penghambaan seseorang terhadap sang Khalik, yaitu Allah swt.

Hamba atau budak pasti akan senantiasa menunaikan suatu aktivitas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya, baik ia suka atau tidak suka, senang atau terpaksa terhadap pekerjaan tersebut. Hal ini ia lakukan karena pekerjaan tersebut merupakan perintah Tuannya . Oleh sebab itu, ia memahami sebagai sebuah kewajiban yang mutlak untuk di jalankan.

Demikian juga orang beriman yang beribadah atau menghamba dalam menjalankan syariat Islam. Ada yang menjalankannya dengan “terpaksa” karena sudah menjadi kewajiban baginya. Ini ia lakukan dalam setiap ibadah, baik berupa shalat, puasa, haji, zakat, maupun ibadah muamalah.

Dilihat dari cara atau model orang tersebut dalam menerima titah dan menjalankan perintah, ia tak ubahnya seperti seorang hamba sahaya yang harus menjalankan suatu aktivitas hanya karena perintah dari tuannya.

Lalu, dimana posisi ikhlas? Jangan-jangan ini berarti ia sama saja dengan tidak ikhlas. Jawabnnya adalah insyaAllah segala amalnya tetap akan dicatat sebagai ibadah yang memilki nilai keikhlasan meskipun ia menjalankannya karena sekadar menggugurkan kewajiban. Mengapa bisa demikian? Ya, itu semua bisa dinilai demikian asalkan ketika menjalankan perintah tersebut,didalam hatinya tetap ia niat kan karena Allah-lah yang memerintahkannya, bukan yang lain.

2. Ibadah Pedagang
Hanya pedagang yang senantiasa berharap agar pada setiap transaksi yang dilakukan, ia selalu memperoleh keuntungan,alias laba. Jika ada pedagang tidak berharap untung atau laba , mungkin ia bukan pedagang, melainkan orang yang berprofesi lain, cuma tampak seperti pedagang, atau entah siapa. Wallahu a’lam.

Demikian juga dengan orang-orang beriman yang mau beribadah dan menjalankan setiap ajaran syariat islam sebagai konsekuensi keimanannya. Adapula tipikal pedagang ini. Ia melaksanakan ibadah karena mengharap imbalan atau pahala, serta balasan surga dari Allah SWT diakhirat kelak.

Apakah salah seorang hamba berbuat demikian? Tentu tidaklah salah, apalagi dosa, tentu tidak sama sekali. Sebab Allah SWT memang memberikan janji surga bagi para hambanya yang beriman dan bertaqwa, serta mengancam dengan dimasukkan ke neraka bagi mereka yang “bandel” dan selalu melanggarnya.

Pertanyaan berikutnya,dimana posisi ikhlas? Jangan-jangan ini berarti kalau beribadah mengharap surga,ia tidak ikhlas. Jawabnnya tentu tidaklah demikian, Allah SWT maha mengetahui selera hambanya. Mayoritas mereka senang terhadap sesuatu yang menyenangkan. Oleh sebab itu, Allah SWT menjanjikan tempat bernama surga bagi para hamba-Nya yang taat kepada-Nya, serta mengancam neraka bagi yang durhaka.

Ketahuilah, betapa pun seorang hamba menjalankan ibadah karena menginginkan surga dan karena takut pada neraka, insyaAllah tidak menghilangkan nilai keikhlasannya. Namun, dengan syarat apabila didalam hatinya yang paling dalam, ia tetap niatkan semata-mata karena Allah SWT, zat yang telah menjanjikan surga, suatu keuntungan yang tak ada habisnya. Sebaliknya, dia juga mengancam dengan neraka sebagai siksa yang tiada terperi jika ia meninggalkan perintah-Nya.

3. Ibadah Seorang Kekasih
Hanya seorang kekasih yang benar-benar mencintai kekasihnya tanpa pamrih, yang akan berbuat apa saja tanpa mengharap imbalan atau balasan apapun dari yang ia cintai. Orang-orang yang berbuat atas dasar cinta akan semangat dan sumringah dengan apa yang sedang ia perbuat.

Oleh sebab itu, seorang hamba yang beribadah karena cinta kepada Allah SWT, ia akan melakukan apa saja yang telah diperintahkan Allah SWT kepadanya, tanpa memedulikan apakah Allah SWT akan membalas perbuatan tersebut atau tidak. Baginya, bisa berbuat untuk zat yang sangat dicintainya sudah merupakan sesuatu yang teramat berharga.

Sungguh, cinta karena Allah SWT benar-benar menjadi partner ketulusan dan keikhlasan. Cinta menginspirasi sesorang untuk berbuat atas nama kesenangan, sedangkan keikhlasan menginspirasi seseorang atas nama Allah SWT. Cinta seseorang dapat terjadi meski bukan karena Allah, misalnya cinta karena syahwat, cinta karena harta,c inta karena pangkat dan kedudukan, bahkan ada juga yang cinta karena kesehatan yang dimilki. Ketahuilah,hanya cinta yang lahir atas nama Allah SWT, yang akan bertemu dengan nilai-nilai ketulusan dan keikhlasan. Ia menjadi semacam perekat dan bumbu yang membuat ibadah yang seseorang terasa semakin nikmat dan nikmat sekali.

Itulah sahabat bacaan madani Tiga macam cara ini tidak berarti salah, semuanya boleh dan sah adanya. Semua bergantung pada selera, posisi, kelas, dan kemauan masing-masing orang, bahkan juga bergantung pada batas dan kemampuannya. Namun, patut ditekankan bahwa semuanya dimuarakan demi Allah SWT.

Share on Google Plus

About Bacaan madani

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Post a Comment