Belajar Dari Sifat Istiqamah Iblis


Sejak pembangkangan iblis terhadap Allah swt, sampai hari ini dan bahkan sampai hari kiamat, iblis memilki sifat istiqamah yang luar biasa. Ketika iblis mentasbihkan dirinya sebagai seorang yang ingkar kepada Allah Swt dan berjanji akan menjerumuskan manusia sebagai anak cucu adam kedalam kesesatan (neraka), sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Quran :

“Iblis menjawab, beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.’ Iblis menjawab, ‘Karena engkau menghukum saya sesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan engkau yang lurus kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka dan engkau tidak akan mendapati mereka kebanyakan dari mereka bersyukur kepada Mu’.” (QS. Al-A’raaf : 14-17)

Dari saat iblis membangkang terhadap Allah Swt, sampai hari ini bahkan sampai hari kiamat, dia tetap akan menjerumuskan manusia kepada kesesatan. Iblis tidak pernah berpikir untuk berubah atau bertaubat. Hal seperti ini tidak pernah dilakukan oleh iblis. Jangankan melakukan, berpikir untuk berubah sedikit pun tidak pernah terlintas dalam pikirannya.

Dengan demikian iblis selalu istiqamah atau konsisten dengan sikapnya dan bertindak secara terus menerus serta mencari segala macam cara untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya. Para ulama mengatakan, kalau yang digoda iblis itu manusia biasa, maka dia datang sebagai manusia biasa. Begitu juga kalau yang digodanya seorang ulama, maka dia pun datang berpenampilan ulama. Hal ini dilakukan secara terus menerus oleh iblis.

Sifat istiqamah dari iblis inilah yang harus kita contoh, tetapi dalam konteks berbuat baik, bukan berbuat jahat. Kalau iblis istiqamah menjerumuskan manusia kedalam api neraka, mencari segala macam cara. Maka umat manusia pun seharusnya dalam berbuat kebaikan seperti itu. Dengan demikian tidak akan terjadi hari ini seseorang berbuat kebaikan, besok berbuat dosa, lusa bertaubat, hari berikutnya kambuh lagi.

Kalau iblis yang dilaknat Allah Swt  bisa istiqamah dengan tugas pokok dan fungsinya, kenapa umat manusia yang menyatakan beriman kepada Allah Swt dengan sebenar-benar iman, tidak bisa istiqamah dalam menjalan kan perintah Allah Swt dan Rasulnya. Kenapa manusia bisa terjerumus kepada lembah kehinaan, sampai-sampai disebutkan dalam Al-Quran, lebih hina daripada binatang. Bukankah manusia telah dibekali modal besar berupa akal pikiran yang super hebat? Bukankah umat manusia lebih hebat daripada iblis dan bahkan lebih mulia daripadanya?

Barangkalisudah saatnya manusia belajar dari iblis hal istiqamahnya atas pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dalam rangka mencapai visi-misi. Kalau iblis bisa istiqamah dalam menjerumuskan manusia kelembah kemaksiatan, kenapa manusia tidak bisa istiqamah dalam berbuat kebajikan? Jika sikap iblis ini dicontoh, maka insya Allah dunia ini akan aman, damai dan tenytram, sebagaimana sebuah negeri yang dilukiskan Al-Quran sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur (negeri yang baik dan penuh dengan ampunan Allah Swt). sebuah negeri yang adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan, serta selalu dalam keridhaan Allah Swt.

Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang keistiqamahan iblis dalam hidupnya. Mudah-mudahan kita juga bisa istiqamah dalam hal berbuat baik di atas bumi Allah Swt ini. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

Share on Google Plus

About Bacaan madani

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Post a Comment