Makna yang Terkandung Di Dalam Hari Raya Idul Adha (Qurban)


Hari Raya disebut “Id”, karena selalu kembali tiap tahun dengan membawa kebahagiaan baru. “Id” adalah kata yang ringan dan mudah diucapkan, tetapi penuh makna. Ia memenuhi relung jiwa dengan suka dan bahagia, memenuhi hati dengan kejernihan dan ketulusan. Kata yang mengingatkan orang yang hidup sebatang kara dengan keluarganya, orang sakit mengenang saat-saat ia sehat, orang miskin teringat akan kebutuhannya, orang lemah membayangkan andai saja ia kuat, yang nun jauh di sana membayangkan negeri dan keluarganya, anak-anak yatim membayangkan ayahnya. Semuanya itu mengingatkan mereka kepada Allah, Dzat yang Maha, Maha memenuhi dan melipur lara mereka. Maka, dengan takbir, seluruh duka dan lara mereka seolah kecil dan tak ada artinya, karena Allah Maha Besar, Maha Mengubah segalanya.

Karena Allah, Dzat yang Maha Kaya, “Wahai manusia, kalian adalah orang-orang yang membutuhkan Allah. Sementara Allah Maha Kaya, lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Allah SWT juga Maha Mulia, “Katakanlah Muhammad, ya Allah Engkau Maha Pemilik seluruh kerajaan, Engkau berikan kerajaan ini kepada siapa saja yang Engkau kehendaki, dan Engkau bisa mengambil kerajaan dari siapa saja yang Engkau kehendaki. Engkau memuliakan siapa saja yang Engkau kehendaki, dan menghinakan siapa saja yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah seluruh kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segalanya.” (QS. Ali ‘Imran: 26)

Hari Raya adalah hari kemenangan bagi mereka yang taat, maka tentu tidak semua orang berhak merayakan Hari Raya. Hanya mereka yang taat sajalah yang berhak merayakannya. Idul Adhha adalah hari berkurban dan membayar tebusan. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diuji untuk mendapatkan penghargaan, diuji untuk dinaikkan derajatnya, diuji untuk menjadi mulia. “Ketika dia (Ismail) mulai bisa berjalan.” (QS. as-Shaffat: 102),

fase dimana kecintaan orang tua kepada putranya begitu besar, terlebih putra satu-satunya yang sudah dinantikan sekian lama, tetapi Allah hendak menjernihkan hatinya, mengangkat dirinya dan memuliakan kedudukannya. “Dia (Ibrahim) berkata, “Wahai putraku, sesungguhnya aku telah bermimpi, bahwa aku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?” Berkata [Ismail], “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau akan mendapatiku, insya Allah, termasuk orang-orang yang bersabar.” (QS. as-Shaffat: 102)

Mimpi menyembelih putranya, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, disampaikan langsung oleh ayahnya sendiri kepada sang putra tercinta. Maka, para pengemban dakwah dan ulama’ bisa meniru gaya bahasa yang luar biasa ini, “saling mencintai dan saling menghormati”, dalam situasi yang paling buruk dan sulit, lalu putranya membalas dengan cara yang sama, dengan tanpa ragu dan keberanian luar biasa, kesediaan berkurban dan membayar tebusan. Dalam situasi seperti ini tidak akan ada seseorang yang bisa lulus, kecuali dengan izin, pertolongan dan anugerah Allah. Lihatlah, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau akan mendapatiku, insya Allah, termasuk orang-orang yang bersabar.” (QS. as-Shaffat: 102)

Ini merupakan ujian yang nyata, tetapi Ibrahim berhasil melaluinya, dengan luar biasa dan terhormat. Semuanya karena taufik Allah, lantaran keyakinan, keikhalasan dan pertolongan-Nya. Maka, Allah pun menebusnya dengan tebusan dari langit, di Hari Tebusan, “Maka Kami pun menggantinya dengan sembelihan yang besar.” (QS. as-Shaffat: 107)

Penghargaan dan penghormatan ini tidak hanya diberikan kepada keluarga Ibrahim, tetapi juga diberikan kepada setiap orang yang melakukan kebaikan dan ikhlas berjuang untuk Allah hingga Hari Kiamat. “Begitulah, Kami akan membalas orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. as-Shaffat: 110). “Allah mengangkat dari kalangan malaikat dan manusia sebagai utusan, sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha Melihat.” (QS. al-Hajj: 75).

Khusus untuk Ibrahim Allah berikan sertifikat penghargaan dari Allah, “Sesungguhnya dia (Ibrahim) termasuk hamba-hamba-Ku yang beriman.” (QS. as-Shaffat: 111)

Tidakkah ada Ibrahim-Ibrahim baru di tengah-tengah umat ini? Yang sanggup meninggalkan putra kecilnya yang masih menyusu, bersama isteri tercintanya di tengah-tengah padang pasir dan pergi.

“Aku pergi tuk menghadap Tuhanku, Dia akan memberiku petunjuk.” (QS. as-Shaffat: 99), dia hijrah kepada Tuhannya, “Aku hijrah kepada Tuhanku, Dialah Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Ankabut: 26).

Andai saja ada, pasti dia pun akan mendapatkan kemuliaan dari Tuhannya, “Siapa saja yang berhijrah di jalan Allah, maka dia akan mendapatkan di muka bumi tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Siapa saja yang keluar dari rumahnya dengan maksud hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mati menimpanya (sebelum sampai ke tujuan), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.” (QS. an-Nisa’: 100)

Saat ini Islam sangat membutuhkan orang-orang yang sanggup memberikan pengorbanan dan tebusan, baik waktu, harta, anak, tenaga, pikiran, jiwa dan apa saja yang Allah berikan kepadanya, sehingga Allah memuliakannya, dan meninggikan martabat Islam dan umatnya. Dengan begitu, Islam akan meraih kemenangan. Panji kebenaran pun akan berkibar kembali.

Allah memang telah berjanji memenangkan Islam, dan mengalahkan kebatilan, “Kebenaran telah datang, dan kebatilan akan sirna. Sesungguhnya kebatilan itu pasti sirna.” (QS. al-Isra’: 81). Tetapi, kemenangan Islam tidak terjadi begitu saja, melainkan dengan hukum sebab akibat, dengan usaha dan kerja keras. Begitu juga untuk mengalahkan kebatilan, tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi dengan usaha dan kerja keras. Karena itu, selama 13 tahun di Makkah, Nabi saw. dan para sahabat habis-habisan berdakwah. Setelah hijrah ke Madinah, selama 10 tahun tidak kurang Nabi dan para sahabat berperang sebanyak 79 kali, dan 27 kali peperangan dipimpin langsung oleh Nabi.

Semuanya itu merupakan bentuk pengorbanan, dan tebusan yang mereka berikan untuk memenangkan Islam. Tanpa semuanya itu mustahil Islam bisa sampai kepada kita, dan mengubah dunia, mewujudkan rahmat bagi alam semesta. (KH Hafidz Abdurrahman)
Share on Google Plus

About Bacaan madani

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Post a Comment