Thursday, September 8, 2016

Mengapa Khalifah Umar bin Khatab Diam Saat Di Marahi Istrinya?


Siapa yang kemudian tidak kenal dengan seorang sosok sahabat Rasulullah Saw yang sangat tegas, keras dan pemberani, yaitu Umar bin Khatab. Beliau juga termasuk salah satu orang Quraisy yang berani mau membunuh Nabi Muhammad Saw. sebelum beliau memeluk Islam. Setelah beliau memeluk Islam, beliau juga termasuk Sahabat Rasulullah yang paling disegani.

Ketegasan dan keberaniannya membuat orang-orang kafir ketakutan jika harus kemudian berhadapan dengan Beliau. Seseorang yang dahulunya jahiliyah bahkan mengubur hidup-hidup anak kandungnya sendiri karena tradisi kejahiliyahan walaupun ia melakukannya penuh dengan isak tangisan “Aku menangis ketika menggali kubur untuk putriku. Dia maju dan kemudian menyisir janggutku”. Bukan hanya itu, dia bahkan sangat marah dan memukul adiknya ketika diketahui telah memeluk ajaran “sesat” yang telah di bawa oleh seseorang yang bernama Muhammad Saw. Tapi kemudian disitulah hidayah melumpuhkan hatinya hingga kemudian syahadat terlantun dari bibir lantangnya.

Umar bin Khatab memiliki julukan yang khusus yang diberikan oleh Rasulullah Saw yaitu Al Faruq yang berarti Sang Pembeda. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, al-Hakim dikatakan bahwa “Allah telah menempatkan kebenaran pada lisan dan hati Umar. Dialah mampu membedakan yang hak dan yang batil,” sehingga karena itulah Rasulullah saw memberikan gelar tersebut pada Umar.

Umar bin Khatab juga termasuk salah satu sahabat Rasulullah Saw yang ditakuti setan. Namun dalam satu kesempatan Khalifah Umar bin Khatab terdiam disaat di marahi Isterinya. Yang menjadi pertanyaannya, Mengapa khalifah Umar bin Khatab diam saat di marahi istrinya?

Alkisah ada salah seorang laki-laki yang hendak mengadukan kelakuan istrinya kepada Sayyidina Umar bin Khattab, dia hendak mengadukan istrinya karena sering memarahi dirinya, sebagai seorang suami dia merasa dilecehkan dan tidak dihormati.

Saat sampai di depan rumah Umar bin Khatab orang ini hanya menunggu di depan pintu, Secara kebetulan tamu ini mendengar istri Umar sedang memarahinya, sementara Umar tetap cenderung pasif dan tidak menanggapi perkataan istrinya. Kemudian laki-laki tersebut mengurungkan niatnya dan mulai beranjak pulang.

Laki-laki tersebut berkata :"Jika keadaan Amirul Mu'minin saja seperti itu, bagaimana dengan diriku?, begitu dalam hatinya.

Sejenak kemudian Umar keluar dan menyaksikan tamunya akan segera pergi, Umar bin Khatab pun segera memanggilnya : "Apa keperluanmu?.

Wahai Amirul Mukminin, sebenarnya aku datang untuk mengadukan perilaku istriku dan sikapnya kepadaku, tapi aku mendengar hal yang sama pada istri tuan.

Umar berkata, "Wahai saudaraku, aku tetap sabar menghadapi perbuatannya, karena itu memang kewajibanku, Istrikulah yg memasak makanan, membuatkan roti, mencuci pakaian, dan menyusui anakku, padahal semua itu bukanlah kewajibannya", jawab Umar.

Disamping itu, sambung Umar, hatiku merasa tenang untuk tidak melakukan perbuatan haram sebab jasa istriku, Karena itulah aku tetap sabar atas perbuatan istriku.

Wahai Amirul Mukminin, Istriku juga demikian, kata orang laki-laki tersebut. "Oleh karena itu sabarlah wahai saudaraku, ini hanya sebentar", Kata Khalifah Umar.
(Disadur dari Kitab Uqudul Lujjain : Fi bayani Huquqiz Zawjain)

Demikianlah sahabat bacaan madani kisah tentang khalifah Umar bin Khatab diam saat di marahi istrinya. Ini merupakan contoh yang harus kita amalkan sebagai suami. Mudah-mudahan kita bisa mengamalkan hal ini walaupun tidak sepenuhnya seperti Khalifah Umar bin Khatab. Aamiin.

No comments:

Post a Comment