Saturday, March 25, 2017

Kisah Masyithah dan Keluarganya yang Dimasukkan Firaun Kedalam Air Mendidih

Kisah Masyithah sangat memberikan inspirasi besar dalam kehidupan, bagaimana keteguhan dan keyakinannya menjadikan ia wanita yang mulia disisi Allah Swt. Siapa wanita mulia tersebut dialah Masyithah yang hidup pada zaman Firaun dan sekaligus menjadi pembantu mengurus anak-anaknya Fir’aun.

Masyithah adalah pelayan raja Firaun yang paling lebih terkenal sebagai tukang sisir keluarga Firaun. Masyithah harus menyembunyikan kemanan mereka kepada Allah Swt agar keluarganya tidak dihukum mati oleh Firaun.

Akan tetapi keimanan Masyithah kepada Allah Swt yang selama ini disembunyikan diketahui oleh Firaun. Hal ini ketahuan disaat Masyithah sedang menyisir rambut salah seorang putri Firaun, tiba-tiba sisirnya terjatuh dengan reflek Masyithah menyebut, Allah.

Saat itu juga putri Firaun bertanya kepada Masyithah. siapakah `Allah` itu? awalnya Masyithah tidak menjawab pertanyaan tersebut. akan tetapi putri Firaun terus mendesak Masyithah supaya menjawab pertanyaan tersebut.

Akhirnya dengan tenang Masyitah berkata, “Allah adalah Tuhanku dan juga Tuhan sekalian alam.”

Akhirnya putri Firaun mengadu kepada ayahnya raja Firaun tentang ucapan Masyithah disaat menisir rambutnya. Raja Firaun terkejut mendengar Masyithah menyembah selain dari dirinya. Firaun dengan kekuasaan yang ada padanya telah memerintah kepercayaannya yang bernama Hamman untuk segera membunuh Masyithah serta keluarganya yang menyembah Allah Swt.

Jasa pengabdian Masyitah yang begitu lama dan banyak terhadap keluarga Firaun tidak menjadi pertimbangan agar masyithah dan keluarganya tidak dibunuh. Selain menjadi tukang sisir, Masyithah juga merangkap sebagai pengasuh dan mengurusi istana Firaun. Tanpa harus diselidiki dan di periksa Firaun langsung menjatuhkan hukuman berat kepada Masyithah dan keluarganya.

Seperti itulah kekejam raja Firaun yang tidak mempunyai kasih sayang. Firaun mempunyai sikap manusia yang punya kuasa dan kedudukan, yang lupa bahwa dia adalah makhluk ciptaan Allah Swt. Manusia yang lemah dan yang tidak mengakui dia sebagai tuhan akan terus disiksa sesuka hatinya.

Masyithah pun menerima hukuman yang akan diberikan firaun kepadanya tanpa ada sedikit rasa takut. Masyitha sadar bahwa ini semua merupakan ujian yang diberikan Allah Swt kepadanya dan keluarganya. Masyitha dengan lapang dada menerima hukuman apa saja yang akan dilakukan raja Firaun yang sombong dan kufur itu.

Akhirnya memerintahkan Hamman dan pengawal-pengawalnya menyediakan kuwali yang besar. Hamman akan merebus Masyitah serta keluarganya yang terdiri dari suami dan empat orang anak termasuk seorang bayi yang masih kecil.

Masyithah dan keluarganya melihat air di dalam kuwali besar yang dimasak sampai mendidih, namun sedikitpun tidak menggoyang keyakinan mereka kepada Allah Swt. Sebelum ditolak ke dalam kuwali tersebut, Masyithah sekeluarga telah ditanya oleh Hamman. Kalau ingin selamat mereka harus menyembah Firaun sebagai tuhan atau masuk kedalam kuawali dengan menyemag Allah Swt.

Dengan tegas Masyithah dan keluarganya berkata, “Kami akan terus beriman kepada Allah Swt sekalipun harus terjun ke dalam kuawali yang berisi air mendidih ini.”

Maka Hamman pun memaksa satu-persatu keluarga Masyithah terjun ke kuawali tersebut dengan sombong dan ketawa terbahak-bahak sambil menyindir dan menghina mereka. Suami Masyithah dicampak dahulu dan diikuti dengan anak-anaknya. Masyithah melihat sendiri bagaimana suami dan anak-anaknya dimasukkan dalam kuawali berisi air mendidih tersebut. Akhirnya tinggal Masyitah bersama bayi yang sedang digendongnya.

Di waktu itulah syaitan berbisik ke telinga Masyithah, apakah dia tidak merasa kasihan pada bayi yang digendongnya yang tidak tahu apa-apa. Awalnya Masyitah merasa ragu dengan bisikan tersebut. Saat itu juga dengan kuasa dan kehendak Allah, tiba-tiba anak yang masih kecil itu berbicara.

Berkata kepada Masyithah, ibunya, “Wahai ibu marilah kita menyusul ayah. Sesungguhnya syurga sedang menanti kita.”

Mendengar ucapan anaknya itu, Masyithah dengan rasa kehambaan kepada Allah mencampakkan diri dan anaknya ke dalam kuawali yang berisi air mendidih itu. Kuawali itu dikacau oleh pengawal dengan menggunakan besi. Mereka dikacau seperti ikan yang direbus. Maka meninggalah Masyithah bersama keluarganya demi mempertahankan aqidah dan keimanan mereka.

Allah Swt pun membuktikan janji-Nya pada hamba-hamba-Nya yang memegang teguh (istiqamah) keimanannya. Ketika Masyithah dan keluarganya dilemparkan satu persatu pada belanga itu, Allah telah terlebih dahulu mencabut nyawa mereka, sehingga tidak merasakan panasnya air dalam kuwali itu.

Sahabat bacaan madani yang dirahmati Allah Swt. begitulah ujian dan cobaan yang diberikan Allah Swt. kepada Masyithan dan keluarganya. Sedikitpun Masyithah tidak pernah mundur dari keimanannya, walupun ajal yang akan di hadapi. Masyihah adalah salah satu contoh sebagai wanita tangguh yang tidak ada rasa takutnya, walaupun keluarga dan dirinya yang jadi korban. Masyitha yakin bahwa kenikmatan yang sebnarnya itu berada di syurga kelak. Masyithah tetap istiqamah dengan keimanannya. Yaitu tetap mengakui Allah Swt sebagai tuhan seluruh alam. Bukan Firaun, sebab Firaun juga merupakan ciptaan Tuhan. Mudah-mudahan keteguhan iman Masyithan ini bisa kita contoh. Aamiin.

No comments:

Post a Comment