Friday, March 17, 2017

Kisah Nabi Musa dengan Seekor Ulat dalam Batu

Musa adalah seorang Rasul dan Nabi pilihan Allah yang diutus menghadap kepada kaum Fir'aun, serta diutus membebaskan Bani Israel menghadapi penindasan bangsa Mesir. Nabi Musa dikenal sebagai perantara dalam hal pengajaran agama dan pengampunan dosa untuk Bani Israel. Musa bergelar Kalimullah (seseorang yang berbicara dengan Allah).

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

“Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (QS. An-Nisa’ :164)

Musa merupakan figur yang paling sering disebut di Al-Quran, yakni sebanyak 136 kali serta termasuk golongan Ulul Azmi.

Musa dilahirkan di negeri Mesir sewaktu Bani Israel tinggal sebagai bangsa pendatang sejak zaman Nabi Yusuf. Imran dan Yukhabad merupakan kedua orang tua Musa yang berasal dari Suku Lawy. Musa merupakan adik kandung Nabi Harun dan Miryam.

Diriwayatkan Ketika Nabi Musa as. diperintahkan oleh Allah Swt untuk menemui firaun,Nabi Musa a.s bertanya pada Allah Swt. "Jika aku pergi menemui firaun,siapakah yang akan menjaga isteri dan anak-anakku,dan memberi makan mereka?".

Lalu Allah Swt memerintahkan Musa a.s memukul sebiji batu,maka Nabi Musa pun memukul batu tersebut lapisan demi lapisan sehingga ke lapisan yang ke tujuh.Pada lapisan yang ketujuh itu Nabi Musa a.s menemui seekor ulat ada di dalam batu tersebut dan bersama dengan ulat itu adalah sehelai daun yang segar. Sambil itu, Nabi Musa a.s mendengar ulat itu bertasbih,

"Aku yakin Allah Maha Melihat, Allah Maha Mengetahui di mana aku berada, Dia yang memberi rezeki kepada aku, Dia tidak pernah lupa pada aku." Lantas siapakah yang meletakkan daun yang segar itu bagi makanan ulat yang duduknya di dalam batu yang berlapis tujuh?

Benarlah Allah ketika berfirman,

 وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

"Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah memberinya rizki, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat perlindungannya. Semuanya itu sudah tertulis dalama Kitab Yang Nyata (Lawhul Mahfuz)." (QS Hud: 6)

Sesuatu yang telah dijamin oleh Allah kepada seorang hamba adalah rezeki.

Rasa syukur atas segala nikmat Allah yang diberikan kepadanya betapa pun kecilnya merupakan sarana mendapat keredhoan-Nya dan menjadikan orang itu berhak untuk mendapatkan tambahan rezeki dari-Nya.

Sesungguhnya dilebihkannya rezeki seseorang bukanlah berarti bahwa orang itu lebih dimuliakan dan diutamakan oleh Allah Swt dari orang yang tidak mendapatkan kelebihan rezeki.

Allah Swt yang melapang atau menyempitkan, mengangkat atau merendahkan, memberikan dan menahan rezeki seseorang. Dia mengayakan dan mencukupkan rezeki siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Dia juga memiskinkan dan tidak memberikan kecukupan rezeki siapa saja yang dikehendaki-Nya

Ketakwaan dalam harta, tidak lain adalah memberikan harta itu kepada hamba Allah Swt yang berhak menerima. Karena dalam harta setiap muslim itu terkandung hak orang orang dhu’afa.

Seandainya setiap manusia menyadari akan hal ini tentulah hatinya akan merasa tenang terhadap rezekinya.

Demikianlah sahabat bacaan madani kisah tentang Nabi Musa dengan ulat yang keluar dari dalam batu. Kisah ini menunjukkan bahwa rezki makhluknya sudah Allah jamin semuanya.

No comments:

Post a Comment