Sabar dan Syukur Menjadikan Pribadi yang Menarik bagi Orang di Sekitarnya

Secara etimologi, sabar (ash-shabr) berarti menahan (al-habs). Dari sini sabar dimaknai sebagai upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk mencapai ridho Allah.

Menurut syeikh Ibnu Qoyyim Al-jauziyah, bahwa sabar merupakan budi pekerti yang bisa dibentuk oleh seseorang. Ia menahan nafsu, menahan sedih, menahan jiwa dari kemarahan, menahan lidah dari merintih kesakitan, dan juga menahan anggota badan dari melakukan yang tidak pantas. Sabar merupakan ketegaran hati terhadap takdir dan hukum hukum syari’at. Secara umum sabar terbagi ke dalam tiga tingkatan.

Pertama, Sabar dalam menghadapi sesuatu yang menyakitkan; musibah, bencana, atau kesusahan.
Kedua, Sabar dalam meninggalkan perbuatan maksiat.
Ketiga, Sabar dalam menjalankan ketaatan.

Sedangkan pengertian syukur berasal dari kata syukuran yang berarti mengingat akan segala nikmat-Nya. Menurut bahasa syukur adalah suatu sifat yang penuh kebaikan dan rasa menghormati serta mengagungkan atas segala nikmat-Nya, baik diekspresikan dengan lisan, dimantapkan dengan hati maupun dilaksanakan melalui perbuatan.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa syukur menurut istilah adalah bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, lega, senang dan menyebut nikmat yang diberikan kepadanya dimana rasa senang, lega itu terwujud pada lisan, hati maupun perbuatan.

Adapun seorang mukmin, ia menyikapi nikmat-nikmat Allah Swt  tersebut dengan bersyukur. Ia sadar bahwa nikmat tersebut adalah pemberian dari yang Maha Kuasa, dipergunakan dalam rangka ketaatan kapada Allah Swt  dan tidak menyebabkan mereka sombong dan lupa kepada yang memberikan nikmat tersebut. Maka ditulislah baginya pahala dan ganjaran  yang besar melebihi kegembiraan yang ia peroleh. Ulama tasawwuf terdahulu, mereka membagi-bagi syukur itu atas tiga bagian yaitu:

Pertama, Syukur dengan hati.
Kedua, Syukur dengan lisan.
Ketiga, Syukur dengan seluruh anggota badan.

Itulah tadi bentuk-bentuk kesyukuran, maka hendaknya kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allah Swt yakni dengan terus memuji, baik itu dengan hati, lisan ataupun anggota badan. Maka syukur nikmat bisa berarti bahwa kita sentiasa ingat, sadar, memahami, mengerti, mengucapkan, melaksanakan dan senantiasa memandang kepada Yang Memberi Nikmat yaitu Allah Swt. Dan barang siapa yang mensyukuri nikmat-Nya, maka Allah Swt pun akan membalasnya.

Firman Allah Swt:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيد

“Dan (ingatlah juga)ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Inilah salah satu sikap dari orang-orang yang beriman. Mereka menyadari kelemahan mereka, di hadapan Allah Swt, mereka memanjatkan syukur dengan rendah diri atas setiap nikmat yang diterima. Bukan hanya kekayaan dan harta benda yang disyukuri. Karena orang-orang yang beriman mengetahui bahwa Allah Swt adalah Pemilik segala sesuatu, mereka juga bersyukur atas kesehatan, keindahan, ilmu, hikmah, kepahaman, wawasan, dan kekuatan yang dikaruniakan kepada mereka. Mereka bersyukur karena telah dibimbing dalam kebenaran.

Syukur dan sabar adalah kunci bagi meningkatnya keimanan seseorang pada Allah Swt. Berbagai sarana telah disediakan bagi tumbuhnya rasa syukur dan sabar dalam diri, baik berupa kenikmatan ataupun ujian. Syukur dan sabar juga merupakan sarana untuk meningkatkan kwalitas diri agar lebih berharga dalam pandangan Allah Swt.

Keindahan orang-orang yang memiliki pribadi syukur dan sabar akan terlihat dalam pola hidup kesehariannya. Ia tidak akan memiliki sikap sombong meskipun bergelimangan harta dan kemewahan. Pribadinya terasa sejuk dan penuh keakraban. Namun demikian, ia juga penuh dengan kegigihan untuk
tetap berjuang di jalan Allah untuk meraih keridhaan-Nya. Sungguh indah pribadi-pribadi yang memiliki sifat syukur dan sabar dalam dirinya, sehingga tidak tampak sama sekali dalam dirinya penyesalan dalam penderitaan, rasa putus asa dalam ujian. Karena keindahan pribadinya itulah, Allah Swt merelakan diri-Nya duduk bersama golongan orang-orang seperti ini. Allah Swt berfirman:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“…Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang sabar dan syukur akan membuat manusia menjadi pribadi yang menarik dan mempersona bagi orang-orang yang di sekitarnya. Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang yang memiliki sifat ini, Aamiin.
Share on Google Plus

About Bacaan madani

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Post a Comment