Friday, January 26, 2018

Pengertian Mauqif (Masa Penantian) dan Lamanya di Padang Mahsyar


Mahsyar adalah masa transisi kebangkitan dari alam kubur ke masa penentuan nasib (hisab) umat manusia, sehingga diputuskan masuk syurga atau neraka. Masa penantian di mahsyar ini diistilahkan dengan mauqif.

Mauqif secara bahasa berarti tempat berhenti. Manusia akan dibangunkan dari kuburnya (dari kematian) pada hari kiamat sebagaimana tubuh kita sekarang, tetapi tidak berpakaian, tidak memakai sandal, alam ini dinamakan alam makhsyar. Alam ini tidak berlantai tanah, tetapi lantainya bagaikan perak yang berkilau, dan matahari hanya 7 hasta diatas kepala dan tidak ada tempat berteduh, pohon atau bangunan apa pun.

Manusia berdesak-desakkan, untuk menginjakkan kaki ke lantai mereka berebut karena terlalu banyaknya manusia, dengan panasnya berdesakan dan panasnya terik matahari diatas kepala, maka manusia akan terendam oleh keringatnya masing-masing tergantung amal berbuatan manusia di dunia. Ada yang sebatas tungkak, sebatas leher, bahkan ada yang tenggelam.

Dalam keadaan hiruk pikuk manusia seperti ini, Allah Swt memerintahkan kepada api untuk menggiring manusia menuju mauqif. Mauqif ini tempat pengadilan Allah Swt yang sangat adil, untuk menimbang amal perbuatan manusia dan menentukan tujuan tempat akhir, surga atau neraka.

Dalam masa penantian, seluruh manusia dikumpulkan dalam keadaan telanjang kaki, tidak berpakaian, dan juga tidak dikhitan. Dalam hadis diriwayatkan bahwa ketika Aisyah ra mendengar Rasulullah Saw. bersabda “Manusia dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan telanjang kaki, telanjang badan, dan tidak dikhitan, Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah, semua laki-laki dan perempuan saling melihat satu sama yang lain?”. Rasulullah menjawab : “Wahai Aisyah, urusan pada saat itu lebih penting ketimbang sekedar memandang satu sama lain.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maksud Aisyah, karena semua manusia telanjang apa tidak malu karena auratnya kelihatan.

Keadaan matahari di mahsyar nanti adalah didekatkan terhadap kepala makhluk, sehingga semakin memberatkan dan menakutkan mereka. Itulah di antara peristiwa yang amat dahsyat di padang mahsyar. Maka, keluarlah keringat mereka yang akan menyiksa pemiliknya sesuai dosadosa mereka ketika hidup di dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,

“Pada hari kiamat, matahari didekatkan jaraknya terhadap makhluk hingga tinggal sejauh satu mil.” –Sulaim bin Amir (perawi hadis ini) berkata:”Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan mil. Apakah ukuran jarak perjalanan, atau alat yang dipakai untuk bercelak mata.” Beliau bersabda:”Maka manusia tersiksa dalam keringatnya sesuai dengan kadar amal-amalnya (yakni dosa-dosanya). Maka, di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua betisnya.Adapula yang sampai pinggangnya. Ada juga yang keringatnya sungguh-sungguh menyiksanya.” –Perawi berkata:”Rasulullah menunjuk dengan tangannya ke mulutnya.” (HR. Muslim)

Situasi dahsyat di Mahsyar itu menyebabkab manusia tidak sempat lagi melihat aurat orang lain atau terlintas rasa malu karena aurat kita terlihat. Bahkan orang tua tidak ingat anaknya, suami tidak ingat istrinya dan sebaliknya. Semua sibuk dengan urusan masing-masing, memikirkan keputusan Allah Swt. yang akan diterimanya.

Demikian itu dilukiskan dalam QS. ‘Abasa (80) : 34-37,

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ . وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ . وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ . لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

"Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya. dari ibu dan bapaknya. dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya."

Dalam masa penantian nasib itu, Allah Swt dengan rahmat dan keutamaanNya akana memberikan naungan kepada sebagian hamba-Nya, pada hari yang sangat panas. Tidak ada naungan pada hari itu kecuali naungan-Nya, yaitu di padang mahsyar tatkala mereka menghadap Allah Swt. Beberapa golongan yang akan mendapatkan naungan-Nya, yaitu naungan ArsyNya, adalah sebagaimana yang Rasulullah Saw., sebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Beliau bersabda :

“Ada tujuh golongan yang Allah akan menaungi mereka di bawah naungan Arsy-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Arsy-Nya. Mereka adalah (1) imam (pemimpin) yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dalam peribadahan kepada Rabbnya, (3) orang yang hatinya terkait di masjid, (4) orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang berkedudukan lagi cantik, namun dia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, (6) orang yang bersedekah namuan merahasiakannya, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan (7) orang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian hingga berlinang air matanya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Riwayat yang lain menyebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : "Tiga golongan, barang siapa yang ada di dalamnya, Allah akan melindunginya dibawah arsy-Nya pada hari dimana tidak ada perlindungan kecuali perlindungan Allah. 1). Oarng yang menyempurnakan (air) wudlu’nya ketampat yang ia tidak menyukainya, 2). Orang yang berjalan ke masjid di malam yang gelap gulita, 3).Orang yang memberikan makan kepada orang yang lapar." (HR., Ashbahanim dari Jabir).

Di Mahsyar dengan suhu yang sangat panas di hari hisab, tentulah para manusia menjadi bingung dan panik ingin mencari tempat perlindungan. Dan pada hari itulah manusia akan berkata: “Ke mana tempat lari?”. Dalam al-Quran disingkapkan dengan tegas dan jelas sekali perihal keadaan itu sebagaimana firman Allah dalam surah al-Qiyamah: 10-11:

يَقُولُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ . كَلَّا لَا وَزَرَ

"Pada hari itu manusia berkata: ”Ke mana tempat berlari?”. sekalikali tidak! tidak ada tempat berlindung"

Pada saat itu matahari di dekatkan oleh Allah Swt hingga begitu dekat dengan kepala manusia hingga jarak antara manusia dan matahari tidak sampai satu mil dan suhu panasnya juga di tambah padahal saat itu manusia dalam keadaan telanjang kaki, dan telanjang bulat, mereka terbakar tetapi tidak meninggal. Berkeringat menurut kadar dosanya.

Diantara mereka ada yang berkeringat pada telapak kaki, ada yang berkeringat pada kedua bahunya, ada yang berkeringat pada perutnya, ada yang berkeringat pada dadanya dan ada yang berkeringat pada wajahnya, keringat itu disebabkan karena lamanya mereka berdiri.

Lamanya di Padang Mahsyar adalah satu hari berbanding 50.000 tahun di dunia. Allah Swt berfirman:

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun”. (QS. al-Maarij: 4).

Di Mahsyar dengan suhu yang sangat panas seluruh mahluk berdiri selama 50 ribu tahun dalam keadaan tanpa alas kaki, telanjang dan kehausan tidak makan dan tidak minum tetapi tidak mati hingga mereka merasakan lehernya tercekik karena kehausan, perutnya terkoyak karena kelaparan, tetapi kata Nabi Saw. keadaan seperti itu bagi orang muslim di lalui dengan mudah tidak ubahnya seperti shalat dua rakaat.

Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang pengertian mauqif (masa penantian) dan lamanya di padang mahsyar. Sumber buku Siswa Kelas XI MA Ilmu Kalam Kementerian Agama Republik Indonesia, 2015. Kunjungilah selalu www.bacaanmadani.com semoga bermanfaat. Aamiin.

No comments:

Post a Comment