Kamis, 08 Februari 2018

5 Tingkatan dalam Menunaikan Ibadah Shalat

Pengertian shalat menurut bahasa adalah do'a. Sedang menurut istilah shalat ialah sistem peribadatan yang  tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbiratul ikhram dan diakhiri dengan salam berdasarkan atas syarat dan rukun tertentu. Shalat diwajibkan sebanyak 5 kali dalam sehari semalam. Perintah shalat diturunkan pada waktu isra' dan mi'raj Nabi Muhammad Saw, setahun sebelum hijrah ke Madinah.

Ibadah shalat merupakan tiang agama dalam Islam. Jika shalat ditinggalkan, maka kita meruntuhkan bangunan agama. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.

"Sholat adalah tiang agama, barang siapa yang mendirikan  sholat  berarti  mendirikan  agama,  barang  siapa  yang  meninggalkannya berarti ia telah menghancurkan agama". (HR. Baihaqi)

Oleh karena itu, mari menjaga shalat sebagaimana perintah Allah Swt.:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah semua shalat(mu) dan (peliharalah pula) shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'!” (QS. al-Baqarah : 238).

(Peliharalah semua shalatmu), yakni yang lima waktu dengan mengerjakannya pada waktunya (dan shalat wustha atau pertengahan). Ditemui beberapa pendapat, ada yang mengatakan shalat asar, subuh, zuhur atau selainnya dan disebutkan secara khusus karena keistimewaannya. (Berdirilah untuk Allah) dalam shalatmu itu (dalam keadaan taat) atau patuh, berdasarkan sabda Nabi Saw., "Setiap qunut dalam Alquran itu maksudnya ialah taat" (HR. Ahmad dan lain-lainnya).

Ada pula yang mengatakan khusyuk atau diam, berdasarkan hadits Zaid bin Arqam, katanya,

"Mulanya kami berkata-kata dalam shalat, hingga turunlah ayat tersebut, maka kami pun disuruh diam dan dilarang bercakap-cakap." (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah Swt berfirman, menceritakan tentang keadaan orang-orang yang beriman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ . الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu, orang-orang yang khusyu’ dalam shalat mereka.” (QS. Al Mu’minun : 1-2)

Para Ulama menerangkan makna ‘khusyu’ di dalam shalat’, yaitu seseorang menghadirkan hati di hadapan Allah Swt, merasakan dekatnya (ilmu dan pengawasan) Allah Swt, yang dengan semua itu hati bisa merasa tenang, jiwa merasa damai. Hal ini akan terpancar dalam gerakan tubuh yang tenang, tidak lalai dalam sholat, menghayati setiap bacaan yang dibaca dalam shalatnya, dari awal takbir hingga akhir shalat. Semua ini dalam rangka tunduk dan taat kepada Allah Swt. (Lihat Tafsir Karimirrahman, Maktabah Ar Rusyd, hal. 547)

Maka pentingnya kita menjaga ke kusyu'an dalam shalat, sebab kekusyu'an shalat juga mempengaruhi kesempurnaan shalat dan nilai pahala yang kita dapatkan. Sebagaimana hal ini di sebutkan dalam hadits,

“Sesungguhnya seseorang selesai (dari shalat) dan tidaklah ditulis (pahala) baginya, kecuali sepersepuluh shalatnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahnya.” (HR. Abu Dawud)

Dan dalam hal shalat ini Menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyah di dalam kitabnya “al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalimi ath-Thayyib”, manusia dalam shalat terdiri dari lima tingkatan;

1. Mu'aqqab.
Mu'aqqab artinya disiksa, Tingkatan ini merupakan tingkatan orang yang lalai dan menganggap shalat itu sesuatu hal yang sepele sehingga dalam mengerjakannya sesukanya saja. seperti dijelaskan dalam firman Allah Swt.

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ . الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya" (QS. al-Ma’un : 4-5).

Golongan orang seperti ini adalah seseorang yang tidak serius dalam aturan-aturan seputar shalat, seperti saat wudhu, shalat tidak tepat waktu/ menunda2 shalat/mengabaikan adzan, serta tidak mengindahkan rukun dan syarat sahnya shalat. Golongan ini mengerjakan shalat hanya sebagai formalitas saja untuk menggugurkan kewajiban dan golongan ini cenderung malas tidak semangat untuk melaksanakan shalat.

2. Muhasab.
Muhasab artinya dihisab. Pada golongan ini shalatnya diperhitungkan oleh Allah Swt. Karena orang ini mampu menjaga waktu shalat, wudlu, syarat-syarat dan rukun-rukun shalat, tetapi masih terbatas pada aspek zhahiriyahnya saja. Sedangkan aspek batiniyah (kekhusyuan) kurang diperhatikan sehingga ketika shalat dilaksanakan, pikirannya entah keman-mana.

3. Mukaffar ‘Anhu.
Mukaffar 'Anhu artinya diampuni (dihapus) dosa dan kesalahan. Pada golongan ini adalah orang-orang yang sudah mampu menjaga shalatnya baik lahir maupun batin. Dia juga senantiasa berjuang dan berperang melawan pikiran dan sifat jahatnya dalam segala aspek kehidupan, juga mampu menjaga pikiran-pikiran yang terlintas saat ia sedang melaksanakan shalat agar jangan sampai berhasil mencuri shalatnya. sehingga menjadikannya shalatnya lebih khusyu’. Maka, dia sedang berada di dalam shalat, sekaligus jihad.

4. Mutsabun.
Mutsabun artinya di beri pahala, Pada golongan ini adalah orang yang memiliki ciri-ciri seperti tingkatan Mukaffar ‘Anhu. Tetapi Lebihnya pada tingkat ini adalah ia benar-benar istiqamah dalam mendirikan shalat. Dia mengerjakan shalat dengan menyempurnakan hak-haknya, rukun-rukunnya, dan batas-batasnya. Hatinya larut dalam upaya memelihara batas-batas dan hak-haknya, agar dia tidak menyia-nyiakan sedikit pun darinya. Ia hanyut dan tenggelam dalam shalat dan penghambaan kepada Allah Swt.

Pada tingkatan ini seluruh angota tubuhnya berzikir (mengingat) kepada Allah Swt, pikirannya berzikir juga hatinya berzikir sebagaimana firman Allah Swt.

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (QS. Thaha : 14)

5. Muqarrab min Rabbihi.
Muqarrab min Rabbihi artinya dekat dengan Allah Swt, Pada golongan ini adalah tingkatan yang paling baik, Orang yang menempati tingkatan ini ia merasakan seolah-olah sedang berinteraksi langsung dengan Allah Swt, tanpa ada suatu pembatas apapun. Mata hati mereka tunduk kepada Rabb, Tuhan yang telah menjadikan ia hidup. Mereka juga merasa tentram dalam shalatnya. Ia bener-benar menghayati shalatnya, mereka khusyu', mereka benar-benar menghadirkan Allah Swt, sehingga merasa begitu dekat denganNya. Maka shalat seperti ini adalah shalat yang mampu meredam manusia dari nafsu duniawi, mampu meredam manusia dari penyakit hati dan menjadikan manusia itu sehat lahir dan batin.

Dari lima kelompok diatas maka kelompok pertama akan disiksa. Kelompok kedua akan diperhitungkan amalnya. Kelompok ketiga akan dihapus dosanya. Kelompok keempat akan diberi balasan pahala. Dan kelompok kelima akan mendapat tempat yang dekat dengan Tuhannya, karena dia menjadi bagian dari orang yang ketenteraman hatinya ada di dalam shalat. Barangsiapa yang tenteram hatinya dengan shalat di dunia, maka hatinya akan tenteram dengan kedekatannya kepada Tuhan di akhirat dan akan tenteram pula hatinya di dunia. Barangsiapa yang hatinya merasa tenteram dengan Allah Swt, maka semua orang akan merasa tenteram dengannya. Dan barangsiapa yang hatinya tidak bisa merasa tenteram dengan Allah Swt , maka jiwanya akan terpotong-potong kerana penyesalan terhadap dunia. (Al-Wabil Ath-Thayyib, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, hal 25-29)
Baca Juga :


Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang lima tingkatan dalam menunaikan ibadah sholat. Kunjungilah selalu www.bacaanmadani.com semoga bermanfaat. Aamiin.

Sumber:
Buku “Air Mata Penjara Wanita”, hal.124-126, Penerbit Elba
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalimi ath-Thayyib hal 25-29

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.