Thursday, February 15, 2018

Biografi Singkat Ahmad Khatib al-Sambasi dan Karya Ahmad Khatib al-Sambasi

Syaikh Ahmad Khathib bin Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad al-Sambasi atau dikenal dengan nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas, lahir tahun 1280 H/ 1803 M di kampung dagang, Sambas, Kalimantan Barat. Ahmad Khatib al-Sambasi wafat di Makkah di tahun 1289 H/ 1872 M.

Pengabdian Khatib al-Sambasi didedikasikan pada pendidikan dengan menjadi guru agama sampai akhir hayatnya. Khatib al-Sambasi terkenal sebagai ahli tarekat sekaligus sebagai pendiri tarekat qadariyah naqsyabandiyah. Dan sampai sekarang pengaruhnya masih tetap besar, begitu juga dengan tarekat yang didirikannya.

Ahmad Khatib al-Sambasi memiliki banyak murid dan berasal dari berbagai negara, diantaranya Nawawi al-Bantani (w. 1897 M), Haji Muhammad Syah dan Haji Fadil. Muhammad Syah dan Haji Fadil dari Malaysia, setelah kembali ke Malaysia tepatnya di Johor mereka menyebarkan tarekat qadariyah wa naqsabandiyah sebagaimana yang diajarkan gurunya. Pada tahun 1940 an pengikut tarekat tersebut mencapai + 14.000orang pengikut.

Fath al-‘Arifin merupakan salah satu karyanya yang terkenal dan berpengaruh kuat terhadap sufisme khususnya di Melayu. Fath al-‘Arifin adalah kitab panduan zikir, doa, dan amalan kata-kata tertentu tanpa putus. Fath al-‘Arifin sebagai acuan sekaligus bagian utama dari tarekat tersebut.

Walaupun Syeikh Ahmad Khatib Sambas termasyhur sebagai seorang tokoh sufi, namun ia juga menghasilkan karya dalam bidang ilmu fikih yang berupa manusrkip risalah Jum’at. Naskah tulisan tangan ini dijumpai tahun 1986, bekas koleksi Haji Manshur yang berasal dari Pulau Subi, Kepulauan Riau. Demikian menurut Wan Mohd. Shaghir Abdullah, seorang ulama penulis asal tanah Melayu. Kandungan manuskrip ini, membicarakan masalah seputar Jum’at, juga membahas mengenai hukum penyembelihan secara Islam.

Pada bagian akhir naskah manuskrip, terdapat pula suatu nasihat panjang, manuskrip ini ditutup dengan beberapa amalan wirid Ia selain amalan Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.

Karya lain (juga berupa manuskrip) membicarakan tentang fikih, mulai thaharah, sholat dan penyelenggaraan jenazah ditemukan di Kampung Mendalok, Sungai Kunyit, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat, pada 6 Syawal 1422 H/20 Desember 2001 M. karya ini berupa manuskrip tanpa tahun, hanya terdapat tahun penyalinan dinyatakan yang menyatakan disalin pada hari kamis, 11 Muharam 1281.

Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang biografi Ahmad Khatib al-Sambasi dan karya Ahmad Khatib al-Sambasi serta pemikiran kalam Ahmad Khatib al-Sambasi. Sumber buku Ilmu Kalam Kelas XII MA Kementerian Agama Republik Indonesia, 2016. Kunjungilah selalu www.bacaanmadani.com semoga bermanfaat. Aamiin.

No comments:

Post a Comment