Sunday, February 18, 2018

Isi Kandungan QS. al-Baqarah Ayat 267-268 Tentang Pemanfaatan Kekayaan Alam

Alam semesta merupakan karunia yang paling besar terhadap manusia, untuk itu Allah Swt. menuruh manusia untuk memanfaatkannya dengan baik dan terus harusbersyukur kepadanya. Akan tetapi pada kenyataannya lain, malahan terjadi kerusakan disana-sini akibat perbuatan orang-orang munafiq.

Teks Al-Qur'an Surat al-Baqarah Ayat 267-268,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ . الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

267. "Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkandengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." 268. "syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. al-Baqarah : 267-268)

Mufradat Penting QS. al-Baqarah (2): 267-268.
1. آمَنُوا/amanuu, orang-orang beriman, merujuk pada karakter manusia yang percaya /iman kepada Allah Swt dengan segala institusinya. Kata amanuu yang bersifat jama’ menunjuk pada makna kebanyakan orang yang beriman kepada Allah Swt dengan keimanan yang beragam. Ini berbeda dengan ungkapan mukminun, mukminin yang merujuk pada kemantapan mereka dalam beriman kepada Allah Swt.

2. أَنْفِقُوا/ anfiqu, memberi nafkah, terambil dari akar kata “nafaqa” yang berarti; pengeluaran, pembelanjaan, memberikan harta untuk kebajikan. Dari akar kata itu juga tersusun istilah “infaq”, yakni sesuatu yang diberikan oleh seseorang guna menutupi kebutuhan orang lain baik berupa makanan, minuman, dan sebagainya. Dalam infaq tidak ada ketentuan mengenai jenis dan jumlah harta yang akan dikeluarkan serta tidak pula ditentukan kepadasiapa diberikan dan waktu mengeluarkan infaq adalah pada saat mendapatkan rezeki tanpa ditentukan kadar jumlah yang harus dikeluarkannya.

3. Kata كَسَبْتُمْ/ kasabtum, yang kamu usahakan, terambil dari akar kata kasaba, yang berarti melakukan sesuatu dengan mudah dan tidak disertai dengan upaya sungguh-sungguh. Kata kasaba, jika digandeng dengan sesuatu kebaikan berarti menunjuk pada isarat bahwa kebaikan walau dalam bentuk niat dan belum mujud dalam kenyataan, sudah mendapat imbalan dari Allah Swt. Dan jika dikaitkan dengan sesuatu yang bernilai keburukan, ia baru dicatat sebagai dosa setelah diusahakan denga kesungguhan dan lahir dalam kenyataan.

4. Kata غَنِيٌّ / ghaniy, kaya, pada awalnya bermakna tidak membutuhkan sesuatu, Jika dinisbahkan kepada Allah Swt berarti Dia tidak butuh terhadap siapapun dan apapun, sedangkan yang lain butuh kepada-Nya.

5. Kata حَمِيدٌ / hamid, terpuji, Pada ayat diatas dinisbahkan atas nama Allah Swt yakni, Yang Maha Terpuji. Sesuatu yang terpuji paling tidak mengandung unsur perbuatan yang harus disandang oleh yang dipuji sehingga ia wajar mendapat pujian yakni, indah, dilakukan secara sadar dan tidak terpaksa atau dipaksa.

6. Jadi jika kata hamid, terpuji, disandangkan kepada Allah Swt, maka Dia yang telah menciptakan dengan penuh maksud dan yang diciptakan itu adalah indah/baik, Dia melakukan perbuatan tersebut dengan penuh kesadaran dan tentunya tanpa paksaan atau dalam keterpaksaan.

7. Kata مَغْفِرَةً / maghfira, ampunan, terambil dari akar kata ghafaro yang artinya menutup. Allah Swt menutupi dosa hamba-hamba-Nya karena kemurahan dan anugerah-Nya atas penyesalan atas segala dosa, sehingga penyesalan ini berakibat kesembuhan, dalam hal ini adalah terhapusnya dosa.

8. Kata فَضْلًا / fadl, karunia, pada mulanya berarti kelebihan, Allah Swt mempunyai kelebihan yang agung, karena segala sesuatu adalah miliknya, dengan demikian berarti Allah Swt yang memberi karunia kepada siapapun karena semua pada hakekatnya adalah milik-Nya. Manusia yang mendapat karunia Allah Swt berarti mereka di lebihkan dari yang lainya karena perbuatan tertentu yang dilakukan.

Isi Kandungan QS al-Baqarah Ayat 267-268 Tentang Pemanfaatan Kekayaan Alam.
Hendaknya sikap seorang muslim terhadap harta benda:

1) Harta adalah anugerah dari Allah Swt yang harus disyukuri. Tidak semua orang mendapatkan kepercayaan dari Allah Swt. untuk memikul tanggung jawab amanah harta benda. Karenanya, ia harus disyukuri sebab jika mampu memikulnya, pahala yang amat besar menanti.

2) Harta adalah amanah dari Allah Swt yang harus dipertanggungjawabkan. Setiap kondisi, entah baik atau pun buruk yang kita alami sudah menjadi ketentuan dari Allah Swt., dan mesti kita hadapi secara baik sesuai dengan keinginan yang memberi amanah.

3) Harta adalah ujian. Ujian bukan hanya kemiskinan, tetapi kekayaan juga merupakan ujian. Persoalannya bukan pada kaya atau miskin, tetapi persoalannya adalah bagaimana menghadapinya. Karena Allah ingin mengetahui siapa yang terbaik amalannya.

Dalam rangka mengentaskan kemiskinan, al-Qur`an menganjurkan banyak cara yang harus ditempuh, yang secara garis besar dapat dibagi pada tiga hal pokok, yakni kewajiban setiap individu, kewajiban masyarakat dan kewajiban pemerintah.

1) Kewajiban individu tercermin dalam kewajiban bekerja dan berusaha.

2) Kewajiban orang lain tercermin pada jaminan satu rumpun keluarga, dan jaminan sosial dalam bentuk zakat dan sedekah wajib.

3) Kewajiban pemerintah melindungi dan menjamin warganya agar hidup adil dan sejahtera.

Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang isi kandungan QS. al-Baqarah Ayat 267-268 tentang pemanfaatan kekayaan alam. Sumber buku Tafsir-Ilmu Tafsir Kelas XI MA Kementerian Agama Republik Indonesia, 2015. Kunjungilah selalu www.bacaanmadani.com semoga bermanfaat. Aamiin.

No comments:

Post a Comment