Kamis, 20 Juli 2023

Hadis Tentang Berpikir Kritis

 Hadis dan Penjelasan Lain tentang Berpikir Kritis

Artinya: Dari Abi Dzar r.a. Nabi Saw. bersabda: “Pikirkanlah mengenai segala sesuatu (yang diciptakan Allah), tetapi janganlah kalian memikirkan tentang Dzat Allah, karena kalian akan rusak” (H.R. Abu Syeikh).


Isi Kandungan Hadis

1. Isi Hadis ini membimbing kepada kita agar selalu berpikir kritis atau berpikir positif (positive thinking), yakni memikirkan tentang ciptaan Allah Swt. Maksudnya, kita digalakkan untuk berpikir, meneliti dan mengkaji segala hal yang terkait dengan makhluk ciptaan-Nya, tetapi dilarang memikirkan Dzat-Nya.

2. Terlarang memikirkan Dzat Allah Swt. itu disebabkan: jika dipikir Dzat Allah, pasti akal dan segala potensi yang dimiliki manusia tidak mampu mencapainya. Sebagaimana Rasulullah Saw. menuntun kita dalam menggunakan akal dan kalbu yang dipikirkan hanya makhluk-Nya saja, agar tidak sesat pikir, yang akhirnya menjadi sesat jalan.

3. Harus menjadi kesadaran bersama, bahwa berilmu, yang awalnya dimulai dari proses berpikir, obyeknya hanya di seputar makhluk dan alam semesta, termasuk dirinya sendiri. Jangan sampai melampaui kapasitas akal, yakni berpikir tentang Dzat Allah Swt.

4. Berpikir itu ada batasnya, tidak sebebas-bebasnya. Ada batas yang tidak boleh dilalui dan harus berhenti, karena jika tidak, manusia sendiri yang mengalami kebingungan dan kekacauan dalam hidupnya. Ini tentu tidak dikehendaki, karena penggunaan akal pikiran dan akal budi, bermuara kepada semakin dekatnya kepada Allah Swt., bukan malah menjauh dari-Nya.

Berpikir menjadi ciri khas manusia. Disebabkan kemampuan berpikir, manusia menjadi makhluk yang dimuliakan Allah Swt.

Menarik untuk merenungkan dialog tersebut bahwa segala seuatu itu sebelum diputuskan, harus ada dialog dan musyawarah terlebih dahulu. Lalu diputuskan mana argumen dan pemikiran yang paling matang dan unggul untuk dipakai sebagai sebuah keputusan. Itu artinya Islam sangat menekankan adanya berpikir kritis, silakan menyodorkan argumen yang sahih, dan proses dialog yang bijak, sehingga hasilnya membawa kebaikan untuk semua

Berpikir terambil dari bahasa Arab, yakni الفكر ,berarti kekuatan yang menembus suatu obyek, sehingga menghasilkan pengetahuan. Jika pengetahuan itu didukung bukti-bukti kuat, dinamakan علم‘/ilm (Q.S. atTakatsur/102: 3-5). Jika buktinya belum meyakinkan, namun kebenarannya lebih dominan, disebut ّ ظن  (dhann/dugaan)/Q.S. al-Hujurat/49: 12. Selanjutnya, jika kemungkinan benar dan salahnya seimbang disebut ّ شك (syakk/keraguan). Sementara jika tidak didukung bukti, atau bukti tersebut lemah, sehingga kemungkinan salahnya lebih besar disebut وهم (wahm).

Banyak ditemukan ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang pengetahuan yang bersumber pada akal pikiran atau rasio. Perintah untuk menggunakan akal dengan berbagai macam bentuk kalimat dan ungkapan merupakan suatu indikasi yang jelas untuk hal ini. Tetapi, tidak sedikit paparan ayatayat yang mengungkap tentang pengetahuan yang bersumber pada intuisi (hati atau perasaan) terdalam

Menata ulang cara berpikir, mendayagunakan akal, dan menimbangnimbang sebuah problematika untuk mencari solusi dan menemukan kebenaran, menjadi hal yang niscaya. Itulah sebabnya, Islam menekankan agar akal pikiran harus dijaga betul, jangan sampai diperlemah, baik berasal dari faktor internal maupun eksternal, misalnya tidak mendayagunakan, karena faktor kemalasan; minim ikhtiar, apalagi mengkonsumsi minuman keras, narkoba atau zat adiktif lainnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.