Selasa, 05 Juli 2016

Kisah Rasulullah Saw Dengan Anak Yatim Ketika Idul Fithri


Hari raya Idul Fithri merupakan hari kemenangan yang disambut dengan riang gembira oleh seluruh umat Islam, baik dia anak-anak maupun orang tua. Akan tetapi tidak semua orang sepenuhnya bergembira, disebabkan beberapa hal. Mungkin karena tidak pulang anak, suami dari perantauan, atau janda yang ditinggal mati oleh suami dan anak-anak yatim.

Disela-sela Takbir berkumandang, masih terdapat orang yang harus berduka, sedih, karena kemalangan yang menimpanya. Kesedihan ini akan terbuka lebar karena lebaran datang. Sedangkan anggota keluarga tidak cukup mengelilingi mereka. Bagaimana jerit pilu seorang istri ditengah keramain takbir sementara suami jauh, entah di alam baqa’ atau jauh merantau mengadu nasib mencari rezeki.

Begitu juga dengan anak-anak yatim yang ditinggal oleh orang tuanya untuk selama-lamanya. Begitu banyak kekurangan atau tidak lengkap disaat mereka merayakan lebaran. Apalagi disaat mereka melihat kegembiraan kawan-kawannya begitu sempurna disaat merayakan Idul Fithri bersama kedua orang tuanya. Untuk itu suatu kewajiban bagi kita umat Islam untuk memperhatikan anak-anak yatim ini di saat lebaran atau di luar lebaran. Kitalah sebagai pengganti orang tua mereka yang telah mendahului kita. Hal yang seperti ini pernah di alami oleh Rasulullah Saw. disaat hari Raya Idul Fithri.
Alkisah, saat itu hari raya Idul Fithri telah tiba. Sejak pagi-pagi sekali, semua orang sibuk mempersiapkan pesta menyambut Idul Fithri. Kota Madinah dipenuhi suasana gembira. Waktu pelaksanaan shalat Id semakin dekat.

Suasana di sekitar lapangan tempat shalat Id semakin semarak dengan aroma wewangian yang melenakan dari pakaian yang melambai-lambai ditimpa riuh-rendah suara anak-anak yang tiada henti.Usai shalat Id anak-anak tampak sibuk bersalaman mengucapkan selamat Idul Fithri kepada setiap orang yang hadir di lapangan.

Ketika Rasulullah SAW baru saja turun dari mimbar dalam menyampaikan khutbah Idul Fithri, beliau melihat seorang bocah bertubuh kurus duduk termenung memakai baju compang-camping, duduk sendirian di salah satu sudut lapangan sembari melelehkan air mata, sementara kawan-kawannya berlari-lari dengan riang merayakan Idul Fithri. Rasulullah berjalan menghampiri anak tersebut, dengan penuh kasih sayang mengusap pundaknya dan bertanya, “Mengapa menangis, Nak?” 

Si anak berkata, “Tinggalkan aku sendiri! Aku sedang berdoa.” Rasulullah membelai rambut bocah itu dan dengan suara yang penuh kelembutan beliau bertanya kembali, “Katakan padaku, Nak! Apa yang terjadi padamu?” 

Bocah itu menyembunyikan wajah di antara kedua lututnya, lalu berkata, “Suatu hari ayahku pergi berjuang bersama Rasulullah SAW. Dan kemudian ia meninggal dalam perjuangannya. Ibuku sudah menikah lagi dengan orang lain. Harta benda milikku dijarah orang.Aku hidup bersama dengan ibuku, tetapi suaminya yang baru telah mengusirku pergi. Hari ini semua anak-anak sebayaku bercanda dan menari-nari dengan mengenakan pakaian barunya, tetapi diriku? Aku tidak punya makanan yang kumakan dan tidak pula atap yang melindungiku.”

Mata Rasulullah mulai berkaca, tetapi beliau mencoba untuk tetap tersenyum sembari bertanya,

“Jangan bersedih anakku! Aku juga kehilangan ayah dan ibu saat aku masih kecil.”

Si anak menengadahkan kepalanya dan menatap Rasulullah, ia segera mengenali wajah itu dan ia pun merasa sangat malu. Dengan nada penuh kasih Rasulullah melanjutkan kalimatnya dan berkata, “Jika aku menjadi ayahmu dan Aisyah menjadi ibumu, dan Fatimah saudaramu, apakah kamu akan merasa bahagia, anakku?” 

Si anak mengangguk. Rasulullah pun menggandeng tangan anak malang itu dan membawanya ke rumah. Beliau memanggil Aisyah, “Terimalah anak ini sebagai anakmu.” Aisyah memandikan anak itu dengan tangannya sendiri dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. 

Setelah memakaikan pakaian padanya, Aisyah berkata, “Sekarang pergilah Nak. Kamu bisa bermain dengan teman-temanmu, dan bila sudah kau rasa cukup, pulanglah.” Si anak kembali ke lapangan seraya menari kegirangan.

Demikianlah sahabat bacaan madani, kisah tauladan Rasulullah Saw, memperhatikan anak-anak yatim disaat merayakan Idul Fithri. Semoga kita juga bisa mencontoh, apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw tersebut, mungkin di sekitar kita banyak anak yatim yang merasakan seperti apa yang dirasakan anak yatim yang ada pada zaman Rasulullah Saw tersebut. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.