Thursday, September 7, 2017

Peran Salahuddin Dalam Perang Salib

Salahuddin lahir disebuah Kastil di Takreet tepi sungai Tigris (daerah Irak) tahun 1137 Masehi atau 532 Hijriyah. Bernama asli Salah al-Din Yusuf bin Ayub. Ayahnya Najm ad-Din masih keturunan suku Kurdi dan menjadi pengelola kastil itu. Setelah kelahiran Salahuddin keluarga Najm-ad-Din bertolak ke Mosul, akibat ada konflik di dalam kastil. Di Mosul, keluarga Najm bertemu dan membantu Zanki, seorang penguasa Arab yang mencoba menyatukan daerah-daerah Muslim yang terpecah menjadi beberapa kerajaan seperti Suriah, Antiokhia, Aleppo, Tripoli, Horns, Yarussalem, Damaskus.

Zanki berhasil menguasai Suriah selanjutnya Zanki bersiap untuk menghadapi serbuan tentara Salib dari Eropa yang telah mulai memasuki Palestina. Zanki bersama saudaranya; Nuruddin menjadi mentor bagi Salahuddin kecil yang mulai tumbuh berkembang dalam lingkungan keluarga ksatria. Dari kecil sudah mulai terlihat karakter kuat Salahuddin yang rendah hati, santun serta penuh belas kasih. Zanki meninggal digantikan Nuruddin. Paman Salahuddin, Shirkuh kemudian ditunjuk untuk menaklukan Mesir yang saat itu sedang dikuasai dinasti Fatimiyah. Setelah penyerangan kelima kali, tahun 1189 Mesir dapat dikuasai. Shirkuh kemudian meninggal. Selanjutnya Salahuddin diangkat oleh Nuruddin menjadi pengganti Shirkuh.

Shalahuddin yang masih muda ternyata mampu melakukan mobilisasi dan reorganisasi pasukan dan perekonomian di Mesir, terutama untuk menghadapi kemungkinan serbuan balah tentara Salib. Berkali-kali serangan pasukan Salib ke Mesir dapat Salahuddin patahkan. Akan tetapi keberhasilan Shalahuddin dalam memimpin Mesir mengakibatkan Nuruddin merasa khawatir tersaingi. Akibatnya hubungan mereka memburuk. Tahun 1175 Nuruddin mengirimkan pasukan untuk menaklukan Mesir. Tetapi Nuruddin meninggal saat armadanya sedang dalam perjalanan.

Akhirnya penyerangan dibatalkan. Tampuk kekuasaan diserahkan kepada putranya yang masih sangat muda. Salahuddin berangkat ke Damaskus untuk mengucapkan bela sungkawa. Kedatangannya banyak disambut dan dielu-elukan. Salahuddin yang santun berniat untuk menyerahkan kekuasaan kepada raja yang baru dan masih belia ini. Pada tahun itu juga raja muda ini sakit dan meninggal. Posisinya digantikan oleh Shalahuddin yang diangkat menjadi pemimpin kekhalifahan Suriah dan Mesir.

Salahuddin dan Perang Salib.
Saat Salahuddin berkuasa, perang salib sedang berjalan dalam fase kedua dengan dikuasainya Yerussalem oleh pasukan Salib. Namun pasukan Salib tidak mampu menaklukan Damaskus dan Kairo. Saat itu terjadi gencatan senjata antara Salahuddin dengan Raja Yerussalem dari pasukan Salib, Guy de Lusigman. Perang salib yang disebut-sebut sebagai fase ketiga dipicu oleh penyerangan pasukan Salib terhadap rombongan peziarah Muslim dari Damaskus.

Penyerangan ini dipimpin oleh Reinald de Chattilon penguasa kastil di Kerak yang merupakan bagian dari Kerajaan Yerussalem. Seluruh rombongan kafilah ini dibantai termasuk saudara perempuan Salahuddin. Insiden ini menghancurkan kesepakatan gencatan senjata antara Damaskus dan Yerussalem. Maret 1187 setelah bulan suci Ramadhan, Salahuddin menyerukan Jihad Qittal. Pasukan muslimin bergerak menaklukan bentengbenteng pasukan Salib. Puncak kegemilangan Salahuddin terjadi di Perang Hattin.

Perang Hattin terjadi di bulan Juli yang kering. Pasukan Muslim dengan jumlah 25000 orang mengepung tentara salib di daerah Hattin yang menyerupai tanduk. Pasukan Muslim terdiri atas 12000 orang pasukan berkuda (kavaleri) sisanya adalah pasukan jalan kaki (infanteri). Kavaleri pasukan Muslim menunggangi kuda yaman yang gesit dengan pakaian dari katun ringan (kazaghand) untuk meminimalisir panas terik di padang pasir. Mereka terorganisir dengan baik, berkomunikasi dengan bahasa arab. Pasukan dibagi menjadi beberapa skuadron kecil dengan menggunakan taktik hit and run.

Pasukan salib terdiri atas tiga bagian. Bagian depan pasukan adalah pasukan Hospitaler, bagian tengah adalah batalyon kerajaan yang dipimpin Guy de Lusigman yang juga membawa Salib besar sebagai lambang kerajaan. Bagian belakang adalah pasukan ordo Knight Templar yang dipimpin Balian dari Ibelin. Bahasa yang mereka gunakan bercampur antara bahasa Inggris, Perancis dan beberapa bahasa Eropa lainnya. Seperti umumnya tentara Eropa mereka menggunakan baju zirah dari besi yang berat, yang sebetulnya tidak cocok digunakan di perang padang pasir.

Salahuddin memanfaatkan celah-celah ini. Malam harinya pasukan muslimin membakar rumput kering disekeliling pasukan Salib yang sudah sangat kepanasan dan kehausan. Besok paginya Salahuddin membagikan anak panah tambahan pada pasukan kavalerinya untuk membabat habis kudatunggangan musuh. Tanpa kuda ditambah dengan keletihan dan kepanasan, pasukan salib menjadi jauh berkurang kekuatannya.

Saat peperangan berlangsung dengan kondisi suhu yang panas hampir semua pasukan salib tewas. Raja Yerussalem Guy de Lusigman berhasil ditawan sedangkan Reinald de Chattilon yang pernah membantai khafilah kaum muslimin langsung dipancung. Kepada Raja Guy, Salahuddin memperlakukan dengan baik dan dibebaskan dengan tebusan beberapa tahun kemudian.

Salahuddin Menuju Yerussalem.
Dari Hattin, Salahuddin bergerak menuju kota-kota Acre, Beirut dan Sidon untuk dibebaskan. Selanjutnya Salahuddin bergerak menuju Yerussalem. Dalam pembebasan kota-kota ataupun benteng, Salahuddin selalu mengutamakan jalur diplomasi dan jalan damai daripada langsung melakukan penyerbuan militer. Pasukan Shalahuddin mengepung Kota Yerussalem, pasukan salib di Yerussalem dipimpin oleh Ballian dari Obelin.

Empat hari kemudian Salahuddin menerima penawaran menyerah dari Ballian. Yerussalem diserahkan ketangan kaum muslimin. Salahuddin menjamin kebebasan dan keamanan kaum Kristen dan Yahudi. Fragmen ini diabadikan dalam film “Kingdom Of Heaven” besutan sutradara Ridley Scott. Tanggal 27 Rajab 583 Hijriyah atau bertepatan dengan Isra Mi’raj Rasulullah SAW, Salahuddin memasuki kota Yerussalem.
Sumber Buku SKI MA Kelas XI. Kementerian Agama Republik Indonesia.

No comments:

Post a Comment