Selasa, 10 Oktober 2017

Kandungan Al-Qur'an Surat Al-Ma’idah: 56-57 dan Surat At-Taubah: 71 Tentang Kepemimpinan

Al-Qur'an Surat Al-Ma’idah: 56-57.
وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

"dan Barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah Itulah yang pasti menang." (QS. Al-Ma’idah: 56)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil Jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu Jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orangorang yang beriman." (QS. Al-Ma’idah: 57)

Memahami Isi Kandungan Qur'an Surat Al-Ma’idah: 56-57.
Ayat ini menjelaskan bahwa yang patut dijadikan sebagai pemimpin umat Islam adalah Allah, kemudian Rasul-Nya, dan orang beriman. Sebab orang mukminitu selalu berusaha menjalankan bimbingan Allah dan Rasul. Mereka itulah golongan (hizbun) yang dijamin memperoleh kemenangan.

Kemenangan yang dimaksud oleh ayat di atas adalah menang kebenaran dan menang keadilan. Bukan menang karena mendapat kedudukan jabatan. Sebab dalam kenyataan, banyak orang yang mengkhiati amanah. Orang yang beriman akan menang dalam menghadapi segala tipudaya dan rayuan duniawi dari jabatan meskipun untuk itu mereka menderita.

Selanjutnya dalam ayat tersebut secara gamblang dijelaskan siapa saja yang patut dijadikan sebagai auliya’. Yakni orang-orang Yahudi, Nasrani, dan juga orang-orang munafik dan mereka yang ada penyakit di dalam jiwanya. Hal ini merupakan peringatan terhadap menjalin hubungan sejawat dengan musuhmush Islam baik dari kalangan kaum Ahli Kitab dan kaum musyrik karena mereka adalah orang-orang yang senantiasa menjadikan syari’at Islam sebagai bahan ejekan dan permainan.

Al-Qur'an Surat At-Taubah: 71.

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)

Memahami Isi Kandungan Qur'an Surat At-Taubah: 71.
Ayat ini berisi tentang perintah untuk menegakkan perbuatan makruf dan mencegah perbuatan yang mungkar. Perwujudan dari keimanan yang kuat yaitu melakukan amar makruf nahi munkar. Orang yang beriman tidak pernah berhenti mengajak kebaikan kepada orang lain, dimanapun ia berada.

Begitu juga, hatinya orang beriman tidak akan pernah merasa nyaman kalau ada perbuatan munkar di sekelilingnya, ia akan berusaha untuk mencegah atau sekurangnya mempengaruhi supaya tidak terjadi perbuatan munkar. Sebab kemunkaran akan mendatangkan malapetaka. Sebaliknya perbuatan yang makruf akan mengundang rahmat Allah Swt.

Tolok ukur kebaikan dan kemungkaran adalah syari’at dan kemaslahatan rakyat. Ini merupakan persoalan yang luas dari tuntutan rakyat pada penguasa, khususnya dalam mencegah kezaliman, tidak menerimanya atau bersabar atasnya.

Berbuat makruf dan mencegah kemungkaran merupakan karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang disertai juga dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan yang dimaksud adalah ketaatan dalam menjalankan syariat, baik berupa perintah maupun larangan yang ditetapkan Allah Swt dan Rasul-Nya dalam Al Qur’an dan Sunnah.

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. An Nur  : 51)

Seorang pemimpin juga harus menjalankan peribadatan dengan konsekwen dan mengembangkan solidaritas sosial. Seorang pemimpin dengan penuh kesungguhan dan keinsyafan menghayati kehadiran Tuhan dalam hidup kesehariannya, maka tentu dapat diharap bahwa keinsyafan itu akan mempunyai dampak pada tingkah laku dan pekertinya

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Ankabut  : 45)

Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang Kandungan Al-Qur'an Surat Al-Ma’idah: 56-57 dan Surat At-Taubah: 71 Tentang Kepemimpinan. Semoga pemimpin-pemimpin kita adalah orang yang amanah. Aamiin. Sumber Tafsir Ilmu Tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia, 2016. Kunjungilah selalu www.bacaanmadani.com semoga bermanfaat. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.