Senin, 30 Oktober 2017

Semangat dan Motivasi Mencari Rezeki Dalam Al-Qur’an

Kata rezeki berarti penghidupan, tiap-tiap yang bermanfaat, segala yang berdaya guna bagi makhluk. Rezeki  Allah Swt berarti penghidupan atau tiap-tiap  yang berguna bagi kehidupan makhluk  berasal dari Allah Swt. Rezeki juga berarti anugrah, karunia atau pemberian dari sisi Allah Swt kepada makhluk-Nya.

Perlu kita ketahui  bahwa rezeki manusia dan seluruh makhluk hidup sudah dijamin oleh Allah Swt. Perhatikan firman Allah Swt dalam surah ar-Rum : 40 berikut ini :

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۖ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَٰلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Artinya “Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan”. (QS. Ar-Rum : 40)

Allah Swt menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna. Badan yang sehat, otak yang cerdas, keimanan dan kemampuan melaksanakan ibadah dengan baik adalah bagian dari sekian banyak karunia Allah yang diberikan kepada manusia. Namun demikian  ada sebagian dari  manusia yang terjebak dengan  pemikiran bahwa rezeki Allah Swt hanya  berupa materi. Padahal rezeki Allah Swt  sebenarnya sangatlah luas.

Setelah  kita tahu  bahwa semua makhluk yang ada di muka bumi rezekinya dijamin oleh Allah Swt, bukan berarti manusia tanpa berbuat apa-apa kemudian rezeki itu ada dengan sendirinya, tetapi dengan akal cerdas yang kita miliki kita harus berpikir bahwa  untuk mendapatkan rezeki itu  tentunya tidak mudah harus ada proses pengupayaan yaitu melalui  usaha atau kerja.

Islam tidak menganjurkan pemeluknya untuk memerankan diri sebagai penganggur, meski dengan alasan  untuk mengkonsentrasikan diri dalam beribadah kepada Allah Swt. Atau menggantungkan belas kasihan orang lain dengan cara meminta-minta. Jadi, berusaha mencari rezeki adalah suatu  keharusan.

Seseorang yang bekerja dengan cara yang baik, halal, motivasi dan tujuannya benar, maka dia akan mendapatkan rezeki dalam bentuk materi dan juga pahala karena apa yang diusahakannya termasuk ibadah.

Renungkan firman Allah Swt:


فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

”Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu'ah :10).

Tentang ayat ini  dalam tafsir Ar-Razi dinyatakan bahwa makna ” maka bertebaranlah kamu di muka bumi” mengacu dua hal yaitu  pertama, perintah untuk menyelesaikan tugas-tugas hidup setelah  selesai salat jumat dan kedua,  larangan untuk berdiam diri, istirahat, tidur di dalam masjid setelah selesai shalat jum'at.

Dalam firman Allah Swt ini tentunya meberi inspirasi bagi kalian untuk senantiasa ”produktif, energig dan efisien ” dalam menggunakan waktu  dan dilarang keras untuk bermalas-malasan.

Allah Swt berfirman:


هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ

”Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya”. (QS.al-Mulk(67):15)

Tentang ayat ini, Ibnu Katsir mengatakan: ” Menyebarlah kemanapun kalian inginkan di penjuru-penjuru-Nya, dan berkelilinglah di sudut-sudut, tepian dan wilayah-wilayah-Nya untuk menjalankan usaha dan perniagaan".

Jadi salah satu pintu  rezeki Allah Swt yang bisa dimasuki  manusia adalah lewat bidang  perdagangan. kebiasaan mencari nafkah dengan berdagang ternyata sudah dilakukan oleh orang-orang suku Quraisy dari  sejak zaman Rasulullah Saw.

Perjalanan dagang mereka ke luar wilayah Mekah, yaitu  pada musim dingin, mereka melakukan perjalanan ke Yaman untuk berbelanja parfum dan rempah-rempah. Selama musim panas mereka pergi ke Syam untuk berbelanja hasil pertanian. Hal ini dinyatakan oleh Allah Swt dalam  firman-Nya  yang terdapat pada  QS. Quraisy:  2

إِيلافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (٢

"(yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas."

Setiap manusia berhak untuk hidup layak, aman, damai dan bahagia. Untuk hidup layak ini, menurut Al-Qur’an merupakan hak sekaligus kewajiban  asas yang paling utama dalam Islam. Ajaran al- Qur'an dan hadis mendorong manusia agar mencari rezeki yang halal dan thayyib. Rasulullah saw bersabda: ”Wahai manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, pakailah cara baik dalam mencari (rezeki) .....”

Rasulullah Saw juga mengingatkan manusia agar berhati-hati dalam mencari harta dan harus selektif  dengan cara memperolehnya sehingga harta yang dimiliki benar-benar halal.

عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَ م مِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ (البخارى  وأبو يعلى

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Pasti akan datang pada manusia suatu zaman dimana orang tidak perduli lagi dengan apa dia mengambil harta, apakah dari yang halal ataukah dari yang haram." (HR. Bukhari dan Abu Ya’la).

Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang semangat dan motivasi mencari rezeki menurut Al-Qur’an. Semoga semangat kita selalu ada dalam mencari rezeki Allah Swt. Tentunya rezeki yang baik dan halal. Aamiin. Kunjungilah selalu www.bacaanmadani.com semoga bermanfaat. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.