Sunday, September 17, 2017

Kisah Fathimah Putri Nabi Saw dan Batu Gilingan Gandum yang Berbicara

Fatimah binti Muhammad Saw atau lebih dikenal dengan Fatimah az-Zahra (Fatimah yang selalu berseri) putri bungsu Nabi Muhammad dari perkawinannya dengan istri pertamanya, Khadijah. Ketika usianya beranjak dewasa, Fatimah Az-Zahra dipersunting oleh salah satu sepupunya, sahabat sekaligus orang kepercayaan Rasulullah, Ali bin Abi Thalib.

Rasulullah sangat menyayangi Fatimah, setelah Rasulullah bepergian ia lebih dulu menemui Fatimah sebelum menemui istri istrinya. Rasulullah mengungkapkan rasa cintanya kepada putrinya takala diatas mimbar:”Sungguh Fatimah bagian dariku , Siapa yang membuatnya marah berarti membuat aku marah”.

Dan dalam riwayat lain disebutkan,” Fatimah bagian dariku, aku merasa terganggu bila ia diganggu dan aku merasa sakit jika ia disakiti.”.

Alkisah, suatu hari masuklah Rasulullah Saw menemui putrinya Fathimah. Rasulullah Saw mendapati putrinya sedang menggiling syair (sejenis gandum) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis.

Rasulullah Saw bertanya pada putrinya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fathimah?, semoga Allah Swt tidak menyebabkan matamu menangis”.

Fathimah. berkata, “Ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumah tanggalah yang menyebabkan anakmu menangis”.

Lalu duduklah Rasulullah Saw di sisi putrinya. Fathimah melanjutkan perkataannya, “Ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta ‘aliy (suaminya) mencarikan ananda seorang jariah untuk menolong ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah”.

Mendengar perkataan putrinya ini maka bangunlah Rasulullah Saw mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu sambil mengucapkan “Bismillaahirrahmaanirrahiim”. Penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya dengan izin Allah Swt. Rasulullah Saw meletakkan syair ke dalam penggilingan tangan itu untuk putrinya dengan tangannya sedangkan penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada Allah Swt dalam berbagai bahasa sehingga habislah butir-butir syair itu digilingnya.


Rasulullah Saw berkata kepada gilingan tersebut, “Berhentilah berputar dengan izin Allah Swt”,

Maka penggilingan itu berhenti berputar lalu penggilingan itu berkata-kata dengan izin Allah Swt yang berkuasa menjadikan segala sesuatu dapat bertutur kata. Maka katanya dalam bahasa Arab yang fasih, “Ya Rasulullah Saw, demi Allah Tuhan yang telah menjadikan baginda dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya, kalaulah Baginda menyuruh hamba menggiling syair dari Masyriq dan Maghrib pun niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah Swt suatu ayat yang berbunyi : 

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan”.

Maka hamba takut, ya Rasulullah kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka. Rasulullah Saw kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, “Bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fathimah az-zahra di dalam surga”. Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu kemudian diamlah ia.

Rasulullah Saw bersabda kepada putrinya, “jika Allah Swt menghendaki wahai Fathimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah Swt menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat.

Ya Fathimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah Swt menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.

Ya Fathimah, perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya maka Allah Swt menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit.

Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah Swt akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang.

Ya Fathimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya maka Allah Swt akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautshar pada hari kiamat.

Ya Fathimah, yang lebih utama dari itu semua adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Jikalau suamimu tidak ridha denganmu tidaklah akan aku do’akan kamu. Tidaklah engkau ketahui wahai Fathimah bahwa ridha suami itu daripada Allah Swt dan kemarahannya itu dari kemarahan Allah Swt?.

Ya Fathimah, apabil seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah Swt akan mencatatkan baginya tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan darinya seribu kejahatan. Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan maka Allah Swt mencatatkan untuknya pahala orang-orang yang berjihad pada jalan Allah yakni berperang sabil.

Apabila ia melahirkan anak maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada hari ibunya melahirkannya dan apabila ia meninggal tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga, dan Allah Swt akan mengkaruniakannya pahala seribu haji dan seribu umrah serta beristighfarlah untuknya seribu malaikat hingga hari kiamat.

Perempuan mana yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar maka Allah Swt akan mengampuni dosa-dosanya semua dan Allah Swt akan memakaikannya sepersalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan dikaruniakan Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah.

Ya Fathimah, perempuan mana yang tersenyum dihadapan suaminya maka Allah Swt akan memandangnya dengan pandangan rahmat.

Ya Fathimah, perempuan mana yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit (malaikat), “teruskanlah ‘amalmu maka Allah Swt telah mengampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang”.

Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyak-kan rambut suaminya dan janggutnya dan memotongkan kumisnya serta menggunting kukunya maka Allah Swt akan memberinya minuman dari sungai-sungai surga dan Allah Swt akan meringankan sakarotul maut-nya, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga seta Allah Swt akan menyelamatkannya dari api neraka dan selamatlah ia melintas di atas titian Shirat”.

Demikianlah sahabat bacaan madani kisah Fathimah putri Nabi Saw dan batu gilingan gandum. Dalam kisah ini ada banyak nasehat untuk wanita muslimah agar menjadi isteri salehah. Begitu juga kelebihan isteri-isteri yang salehah mempunyai keutamaannya tersendiri. Mudah-mudahan muslimah-muslimah menyadari bahwa begitu besar manfaatnya menjadi isteri yang salehah. Aamiin. Kunjungilah selalu www.bacaanmadani.com semoga bermanfaat.
Baca Juga :

No comments:

Post a Comment