Sunday, April 22, 2018

Proses Terjadinya Isra’ Mi’raj dan Tanggapan Masyarakat Tentang Isra’ Mi’raj

A. Proses Terjadinya Isra’ Mi’raj.
Isra’ Mi’raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah Saw hijrah ke Madinah. Menurut Abu A’la Maududi dan mayoritas ulama, Isra’ Mi’raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Manshurfuri, Isra’ Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, sebagian ulama menyebut terjadi pada tahun 12 kenabian.

Menurut banyak keterangan, diriwayatkan bahwa perjalanan Isra’ dimulai ketika suatu malam Nabi sedang tidur di Hijr (dekat ka’bah). Malaikat jibril membangunkan Nabi sampai tiga kali, ketika Nabi Saw terbangun dari tidurnya melihat ada seekor hewan yang putih antara bagal dan himar, pada kedua pahanya ada dua buah sayap yang menambah cepat jalan kedua kakinya.

Perjalanan Isra’ Nabi Muhammad Saw. dimulai dengan pesucian hati. Disebutkan dalam sebuah hadis sebelum dibawa Malaikat Jibril, Nabi dibaringkan lalu dibelah dadanya dan dibersihkan hatinya dengan air zam zam.Apakah hati Rasulullah kotor? Pernahkah Rasulullah berbuat dosa? Apakah Rasulullah punya penyakit dendam, iri, dengki atau berbagai penyakit hati lainnya? Dapat kita fahami dan kita ambil pengertian bahwa dicuci hati Nabi bukan dari kotoran dosa atau ma’siat.Yang dimaksud dicuci disini adalah dikikis habis dari sifat-sifat yang tercela yang ada pada hati manusia biasa.Karena sifat-sifat itu adalah penghalang dalam menghadapi masa-masa perjuangan seorang pemimpin apalagi seorang Rasul.
Baca Juga :
1. Pengertian Isra’ Mi’raj dan Dalil yang Berkaitan dengan Peristiwa Isra’ Mi’raj
2. Rahasia Dibalik Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Perjalanan Isra’ Nabi Muhammad Saw. dimulai dengan salat sebagai rasa syukur di masjidil haram, dilanjutkan ke Thaibah (yatsrib/Madinah, daerah kemudian Nabi hijrah), Madyan (pohon Nabi Musa), Gunung tursina ( tempat Nabi Musa menerima wahyu langsung dari Allah) dan Baitullaham (betlehem/ tempat kelahiran Nabi Isa as).

Pada setiap tempat itu Nabi Saw. melaksanakan shalat sunnah dua rakaat. Pada perjalanan ini, Nabi juga diperlihatkan gambaran-gambaran tentang umatnya pada masa yang akan datang, kemudian perjalanan diakhiri dengan melaksanakan salat di Baitul Muqoddas (masjidil Aqsho).

Perjalanan Isra’ Nabi Saw. diakhiri dengan shalat berjama’ah dengan ruh para Nabi (kecuali Isa bin Maryam as) di Baitul Muqoddas (Masjidil Aqsha). Setelah shalat berjama’ah dilanjutkan dengan pidato sambutan dari para Nabi secara bergantian dan Nabi Muhammad Saw. mendapatkan giliran terakhir. Setelah Nabi Saw selesai mengungkapkan syukur kepada Allah Swt, datanglah bidadari dengan membawa baki berisi dua gelas minuman. Segelas berisi susu dan segelas lagi berisi arak. Nabi Saw memilih susu, kemudian Nabi Saw meminumnya. Ketika itu Malaikat Jibril berkata :”tepat sekali pilihanmu ya Muhammad, minuman itu cocok sekali bagi fitrah manusia, sejak ia lahir minum susu ibu, murni, asli dan bergizi. Seandainya engkau memilih arak maka umatmu banyak yang mendurhakaimu dan sedikit sekali yang mengikutimu”.

Setelah Nabi-nabi mengucapkan pidato sambutan, kemudian mereka meninggalkan Masjidil Aqsha. Nabi Muhammad Saw bersama Jibril dan Mikail keluar meninggalkan masjid, di halaman masjid ada sebuah batu besar, diatas batu itulah diletakkan sebuah alat semisal tangga untuk naik ke langit.Tangga itu mempunyai anak tangga sepuluh buah.Ujung bawah tangga itu terletak diatas batu shakhroh atau batu besar. Ketika diinjak anak tangga yang pertama maka akan langsung mencapai langit pertama begitu seterusnya.

Dengan mengucap basmallah Nabi menaiki tangga itu bersama jibril maka dengan seketika itu telah berada dilangit pertama dimuka pintu gerbang langit pertama “Babul Hafzhah”, disitu berdiri malaikat pengawal langit pertama yang bernama Ismail yang mempunyai anak buah 70.000 Malaikat dan tiap-tiap Malaikat memiliki 70.000 Malaikat. Dilangit pertama Nabi berjumpa dengan dengan Nabi Idris As. langit kedua dengan Nabi Isa As. dan Nabi Yahya As. langit ketiga dengan Nabi Yusuf As. langit keempat dengan Nabi Idris As. langit kelima dengan Nabi Harun As. langit ke enam dengan Nabi Musa As. dan langit ketujuh dengan Nabi Ibrahim as.

Kemudian dari langit ke tujuh Nabi di ajak ke Sidratul Muntaha. karena sampai batas inilah segala amal anak Adam di peroleh malaikat dari bumi. Sidratul muntaha adalah pohon bidara yang tidak berduri, memiliki daun seperti telinga gajah yang berbuah seperti bejana, sebuah pohon raksasa yang tumbuh dilangit ke tujuh, hanya Allah Swt yang mengetahui besarnya pohon itu.

Dengan Isra’ dan Mi’rajnya Nabi Muhammad Saw. diberi kesempatan melihat keadaan surga dari dekat agar dapat di ceritakan kepada Umatnya sehingga mereka tambah beriman dan tambah keyakinannya. Kemudian Nabi Saw diajak melihat keadaan neraka, menurut Nabi Saw neraka adalah tempat penyiksaan. Di dalamnya ada gunung-gunung, ada sungai dan telaga dan jurang-jurang. Air sungai neraka selalu panas dan mendidih, airnya ada dari cairan timah panas, cairan tembaga merah membara, air nanah yang sangat busuk dan bau anyir darah.

Disidratul Muntaha terjadi dialog antara Nabi dengan Allah Swt, diantara dialognya adalah tentang shalat lima waktu yang beliau tawar sampai sembilan kali mulai dari 50 rokaat menjadi 5 rokaat. Allah Swt berfirman: “Demikianlah ketetapan yang telah aku tetapkan. Maka barang siapa yang menunaikannya dengan percaya dan mengharap keridhaan Allah, maka yang lima kali itu pahalanya seperti shalat lima puluh kali”.

Perjalanan Nabi Muhammad Saw. dari Makkah ke Bayt al-Maqdis, kemudian naik ke Sidratul Muntaha, bahkan melampauinya, serta kembalinya ke Makkah dalam waktu sangat singkat, merupakan tantangan terbesar sesudah al-Qur’an disodorkan oleh Tuhan kepada umat manusia. Peristiwa ini membuktikan bahwa ‘ilm dan qudrat Tuhan meliputi dan menjangkau, bahkan mengatasi, segala yang finite (terbatas) dan infinite (tak terbatas) tanpa terbatas waktu atau ruang.

Peristiwa Isra’ Mi’raj bermula ketika Malaikat Jibril As. mendapat perintah dari Allah Swt untuk menjemput Nabi Muhammad Saw. untuk menghadap Allah Swt. Jibril membangunkan Rasul dan membimbingnya keluar Masjidil Haram ternyata diluar masjid telah menunggu kendaraan bernama Buraq sebuah kendaraan yang kecepatannya lebih cepat dari kecepatan rambat cahaya dan setiap langkahnya sejauh mata memandang.

Sayyid Qutub dalam kitabnya yang terkenal, Fi Zhilal al-Qur’an menyatakan, ‘‘Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa adalah perjalanan yang murni pilihan daripada Zat Yang Maha Kasih dan Maha Lembut, yang menghubungkan akar kesejarahan agama-agama besar dari zaman Nabi Ibrahim dan Ismail hingga Nabi Muhammad Saw”

Menurut Tafsir al-Qurtuby, lebih kurang ada 20 sahabat yang meriwayatkan tentang isra’, semua penulis kitab hadis mencantumkan tentang hadis isra’.Menurut dia, kebanyakan hadisnya mutawatir dan shahih, diantaranya yang diriwayatkan Anas Bin Malik.

Perjalanan singkat yang penuh hikmah tersebut segera berakhir, Az-Zahri dan Urwah telah meriwayatkan, bahwa pada pagi hari setelah Rasulullah Saw. di Isra’ Mi’rajkan, ketika peristiwa itu diceritakan kepada orang-orang Quraisy, mereka banyak yang tidak mempercayainya, bahkan mereka mengadakan reaksi membuat fitnah yang keras.

Dalam hal ini, mereka pergi menuju Abu Bakar As-sidik untuk memberitahu tentang apa yang dikisahkan oleh Muhammad dengan berkata : “Wahai Abu Bakar, teman anda Muhammad sudah gila, ia mengaku-aku telah pergi ke Baitul Muqaddas kemudian naik kelangit sampai ke Sidratul Muntaha dan kembali lagi sebelum waktu pagi, adakah anda mempercayainya?” Abu Bakar menjawab : “Kalau memang Muhammad berkata begitu, maka aku mempercayainya”. “Engkau percaya dengan dia?, tanya mereka. Abu Bakar dengan tegas menjawab : “Ya aku percaya, dan itu pasti benar”. Maka dari peristiwa inilah Abu Bakar disebut dengan sebutan “Ash Shiddiq”.

B. Tanggapan Masyarakat Tentang Isra’ Mi’raj.
Tanggapan masyarakat tentang Isra’ Mi’raj beragam. Dalam mempercayai peristiwa Isra’ Mi’raj terdapat tiga kelompok yaitu ;

1. Kelompok yang membenarkan sepenuhnya peristiwa Isra’ Mi’raj yaitu sahabat-sahabat Nabi yang memang mendapat petunjuk dari Allah Swt. sehingga prasangka baik dari hati mereka lebih kuat daripada kekuatan fikir yang cenderung ragu-ragu.

2. Kelompok yang ragu terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj. Mereka berasal dari kalangan sahabat atau pengikut Islam yang setengah terisi keyakinannya, sehingga sikap ragu-ragu ini melahirkan kemurtadan.

3. Kelompok yang terang-terangan menolak peistiwa Isra’ Mi’raj yaitu orangorang yang pada dasarnya sudah tidak percaya pada ajaran Islam.

Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang proses terjadinya Isra’ Mi’raj dan tanggapan masyarakat tentang Isra’ Mi’raj. Sumber buku Ilmu Kalam Kelas XI MA Kementerian Agama Republik Indonesia, 2015. Kunjungilah selalu www.bacaanmadani.com semoga bermanfaat. Aamiin.

No comments:

Post a Comment