Kamis, 18 Februari 2016

7 Golongan Yang Mendapat Naungan di Padang Mahsyar


Mahsyar adalah sebuah tempat di mana Allah Swt. akan mengumpulkan manusia yang pertama hingga yang terakhir. Manusia dibangkitkan dari alam kubur dan digiring menuju mahsyar sesuai dengan kondisi amal perbuatan pada saat mereka mati, bila mereka mati di atas kebaikan, mereka mendapat husnul khatimah dan bila mereka mati di atas keburukan, maka mereka mati di atas su’ul khatimah. Manusia semua berdiri di hadapan Allah selama setengah hari, yang kadarnya satu hari sama dengan lima puluh ribu tahun.

Manusia pada saat itu akan mencari Nabi dan Rasul yang mengakui dia sebagai umatnya. Di tempat itu, manusia merasakan kesengsaraan yang amat berat, bagaimana tidak? Pada saat itu, matahari didekatkan satu mil. Di tengah suasana yang panas itu, ada segolongan manusia yang beruntung dan berbahagia karena mendapat naungan Allah swt. Adapun golongan yang beruntung itu adalah sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW,

“Tujuh orang yang bakal dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tiada naungan selain naungan-Nya adalah: 1. Seorangimam yang adil, 2. Seorang pemuda yang semenjak remajanya beribadah kepada Allah, 3. Seorangyang hatinya terpaut kepada Masjid, 4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul dan bercerai karena Allah, 5. Seseorang yang dirayu oleh seseorang wanita bangsawan dan rupawan segera berkata: “Sungguh aku takut kepada Allah”, 6.Seorang yang bersedekah, lalu dirahasiakan sehingga tanggan kirinya tidak mengetahui apa yang didermakan oleh tangan kanannya, dan 7. Seorang yang berdzikir kepada Allah ditempat sunyi, lalu mencucurkan air matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Golongan yang pertama dari tujuh orang tersebut ialah "imam yang adil." Yaitu hakim (penguasa) yang memimpin manusia dengan petunjuk Al Qur’an, bukan yang dikehendaki imam yang khusus. Karena itu termasuk seluruh penguasa yang mengurusi kepentingan masyarakat banyak. Ia tidak dibenarkan memberikan hadiah kepada orang kaya karena hartawan, tidak mengungkap orang mulia karena kemuliannya dan tidak pula kekerabatannya. Akan tetapi memberikan hak kepada setiap orang yang berhak dengan memelihara kepentingan orang banyak, kemaslahatan dan melindunginya dari setiap gangguan-gangguan baik dari dalam maupun dari luar.

Golongan yang kedua ialah "seorang remaja yang sejak mudanya beribadah kepada Allah swt." Yakni seorang pemuda yang mengawali kehidupannya dengan taat kepada tuhannya sebagai pelaksanaan hak-hak Allah swt. Tumbuh rasa cinta kepada Allah swt sejak kecil dan tidak berjalan mengikuti hawa nafsunya, lantaran mendapat cahaya dari kitab Allah swt dan sunnah Rasulullah saw.

Golongan yang ketiga ialah "seseorang yang hatinya selalu terpaut kepada Masjid." Ia sangat mencintai rumah Allah swt untuk melakukan shalat tepat pada waktunya bersama dengan imam rawatib. Menurut Imam Nawawi bahwa yang dimaksudkannya bukanlah orang terus menerus duduk di dalam masjid, tetapi melaksanakan shalat di Masjid. Kemudian bila ia telah keluar dari Masjid lalu bekerja, maka selalu rindu ingin kembali ke Masjid lagi mendengarkan dzikir dan ayat-ayat Al Qur’an yang dibaca dan pelajaran-pelajaran serta nasehat yang diberikan di Masjid.

Golongan yang keempat, "dua orang yang saling cinta mencintai karena Allah swt," berkumpul dan berpisahpun karena Allah swt. Masing-masing Allah swt, bukan mencari tujuan duniawi. Karena itu mereka saling tolong menolong untuk berbuat kebaktian dan taqwa dan saling berkumpul mencari keridhaan Allah beserta tetap dalam cinta, hingga terpisah oleh adanya bepergian yang jauh atau oleh kematian. 

Golongan yang lima, Orang yang mendapat naungan Allah swt ialah "seorang laki-laki yang dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan, lalu mengatakan: “Sungguh aku takut kepada Allah.”

Dikatakan wanita tersebut bangsawan, lantaran ia berketurunan dan berkedudukan dan cantik rupawan lagi menawan karena dapat membawa kepada fitnah dan menjerumuskan dalam kemaksiatan. Akan tetapi sekalipun orang laki-laki itu dirayunya, namun karena dilindungi agamanya dan perasaa takutnya kepada Tuhan yang selalu mengawasinya dan melihatnya, maka cepat-cepat saja ia menolak dan menampik rayuannya dengan mengatakan: “Aku takut kepada Allah.”  Karena penolakannya semata-mata karena takut kepada Allah ta’ala itulah pantas kiranya memperoleh janji yang bagus sekali sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

“Dan bagi yang takut akan saat menghadap Tuhannya memperoleh dua surga.” (QS. Ar Rahman: 46)

Golongan yang keenam, ialah "seorang yang mengeluarkan sedekah secara rahasia," sehingga tangan kirinya tidak berdekatan dengan tangan kanannya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan kanannya. Orang tersebut adalah orang yang ikhlas benar terhadap Allah swt,  tidak mengharapkan kecuali rahmat-Nya dan tidak mencari melainkan keridhaan-Nya semata. Karena itu lalu ia merahasiakan sedekahnya sehingga tidak tercampur dengan riya’ dan menjadi mulus karena Allah swt.

Golongan yang ketujuh, yaitu "seseorang yang berdzikir kepada Allah swt di kesepian, lalu meneteskan air mata." Dikatakan menyepi lantaran ia seorang diri menjauhi pandangan orang banyak berdzikir kepada Tuhannya dengan merasa takut, menyaksikan kehebatan-Nya dan merenungkan hisab-Nya pada hari kiamat. Karena itulah kedua matanya melelehkan air mata yang hangat lantaran sangat mengagungkan Tuhannya dan merasa akan kebesaran-Nya.

Itulah sahabat bacaan madani tujuh golongan yang mendapat naungan dari Allah swt. di Mahsyar. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat naungan dari Allah swt. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.