Jumat, 28 Oktober 2016

Pengertian Al-Qur'an, Tahapan dan Cara Turunnya Al-Quran

Al Qur'an berasal dari bahasa arab, yaitu bentuk jamak dari kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a - yaqra'u - qur'anan yang berarti bacaan atau sesuatu yang dibaca berulang-ulang. Konsep pemakaian kata tersebut dapat dijumpai pada salah satu surah al Qur'an yaitu pada surat al Qiyamah ayat 17-18.

Secara istilah, al Qur'an diartikan sebagai kalm Allah swt, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai mukjizat, disampaikan dengan jalan mutawatir dari Allah swt sendiri dengan perantara malaikat jibril dan mambaca al Qur'an dinilai ibadah kepada Allah Swt.

Al-Quran diturunkan melalui 3 tahap :

Tahap Pertama (At-Tanazzulul Awwalu)
Al-Qur’an berada di Lauh Mahfuz, yaitu suatu tempat di mana manusia tidak mengetahuinya secara pasti sebagaimana Firman Allah Swt :

بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيد فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ 
“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuz.” (QS. Al-Buruj : 21-22)

Penjelasan berkaitan sejak bila Al-Qur’an ditempatkan di Lauh Mahfuz, dan bagaimana kaifiatnya adalah merupakan hal-hal gaib yang termasuk bahagian keimanan dan tidak ada yang mengetahuinya selain dari Allah swt. Dalam konteks ini Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus maupun secara keseluruhan. Hal ini di dasarkan pada dua sebab.

Pertama: nas pada ayat 21-22 surah al-Buruj tersebut tidak menunjukkan arti berangsur-angsur.
Kedua: rahsia diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur tidak sesuai untuk tanazul tahap pertama tersebut. Dengan demikian turunnnya Al-Qur’an pada tahap pertama, yaitu di Lauh Mahfuz dapat dikatakan secara sekaligus.

Tahap Kedua (At-Tanazzulu Ats-Tsani)
Al-Qur’an turun dari Lauh Mahfuz ke Baitul `Izzah di langit dunia, yakni setelah Al-Qur’an berada di Lauh Mahfuz, kitab Al-Qur’an itu turun ke Baitul `Izzah di langit dunia atau langit terdekat dengan bumi ini. Banyak penjelasannya dari ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi SAW. antara lain sebagaimana Firman Allah Swt:
حم
وَالكِتابِ المُبينِ
إِنّا أَنزَلناهُ في لَيلَةٍ مُبارَكَةٍ ۚ إِنّا كُنّا مُنذِرين
فيها يُفرَقُ كُلُّ أَمرٍ حَكيمٍ
أَمرًا مِن عِندِنا ۚ إِنّا كُنّا مُرسِلينَ
رَحمَةً مِن رَبِّكَ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّميعُ العَليمُ
“Haa Miim. Demi Kitab (Al Qur’an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam yang sangat diberkati dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yakni) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus segala Rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui .” (QS. Ad-Dukhan : 1-6)

Sa`id Ibn Jubair meriwayatakan dari Ibnu Abbas dari Nabi Muhammad saw baginda bersabda yang artinya :

“Al-Qur’an itu dipisahkan dari pembuatannya lalu diletakkan di Baitul Izzah di langit dunia, kemudian Malaikat Jibril a.s. menurunkannya kepada Nabi Muhammad saw.” (HR. Al-Hakim)

Dari Ibnu Abbas r.a. berkata yang artinya :

“Al-Qur’an itu diturunkan secara sekaligus ke langit dunia pada malam Qadar, kemudian setelah itu diturunkan sedikit demi sedikit selama duapuluh tahun." (HR. al-Nasa’i, Baihaqi dan Al-Hakim)

Tahap Ketiga (At-Tanazzulu Ats-Thalisu)
Al-Qur’an turun dari Baitul-Izzah di langit dunia terus kepada Nabi Muhammad SAW., yakni setelah wahyu Kitab Al-Qur’an itu pertama kalinya di tempatkan di Lauh Mahfudh, lalu keduanya diturunkan ke Baitul Izzah di langit dunia, kemudian pada tahap ketiga Al-Qur’an disampaikan langsung kepada Nabi Muhammad saw dengan melalui perantaraan Malaikat Jibril a.s.

Firman Allah Swt:
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ
نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ
عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ

“Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam,Ia (Al-Qur’an) itu dibawa turun oleh Ar-Ruh al-Amin (yakni Malaikat Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu`ara’: 192-194).

Dan Firman Allah Swt :

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

“Berkatalah orang-orang kafir, kenapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali gus sahaja? Demikianlah supaya Kami perbuat hatimu dengannya dan Kami (menurunkan) dan membacakannya kelompok demi kelompok .” (QS. Al-Furqan : 32)

Dari Lauh al-Mahfuz ke Baitul al-Izzah ( langit dunia ) secara keseluruhan dan turun sekaligus, yang terjadi pada malam Qadar (Lailatu al-Qadar).

Dari Baitu al-‘Izzah ke dalam hati Rasulullah saw. Secara bertahap selama 23 tahun kenabian Muhammad saw. Adapun yang pertama kali diturunkan terjadi di bulan Ramadhan.

Proses Turunnya Al-Quran
Dalam proses penerimaan wahyu olih Nabi saw ada terdapat beberapa cara yang dibawa Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw .

Pertama:
Turunnya wahyu kepada baginda seperti bunyi loceng (kesamaan dalam kerasnya bunyi), dan cara ini adalah cara yang paling berat bagi Rasulullah saw.

Sebagaimana tersebut dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, dari ‘Aisyah r.a. bahwasanya al-Harits bin Hisyam r.a. bertanya kepada Rasulullah saw, ia berkata: ”Wahai Rasulallah, bagaimana wahyu turun kepada tuan?” Maka Rasulullah saw menjawab yg artinya :

”Adakalanya wahyu itu datang kepadaku seperti suara lonceng, dan itu adalah yang paling berat bagiku. Kemudian ia terhenti sedangkan aku sudah memahami apa yang Jibril katakan.”

’Aisyah r.a. pula berkata berkata:

”Dan sungguh aku telah melihat wahyu itu turun kepada beliau (Nabi saw ) pada hari yang sangat dingin, lalu wahyu itu terhenti sementara ada peluh mengalir di dahi baginda.”

Kedua:
Terkadang wahyu dibacakan secara langsung kepada Nabi saw olih Malaikat jibril a.s. dimana Jibril a.s. datang berjumpa Nabi saw dalam bentuk rupanya yang asal.
Firman Allah Swt:

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ

"Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu ( dalam rupanya yang asli ) pada waktu yang lain." (QS. An-Najm : 13)

Ketiga :
Ada pula wahyu turun dalam bentuk seorang laki-laki yang menyampaikannya kepada Nabi saw, sebagaimana hadis yang telah lalu dalam Sohih al-Bukhari. Nabi saw telah ditanya tentang tata cara turun wahyu, maka baginda menjawab yang artinya :

”Dan terkadang Malaikat menjelma kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu ia berbicara kepadaku dan kemudian aku memahami apa yang dia katakan.”

Sungguhnya Malaikat telah menjelma sebagai seorang lelaki dalam bentuk yang berbagai, dan tidak ada yang terluput darinya apa yang dibawa oleh Malaikat pembawa wahyu tersebut. Sebagaimana dalam kisah datangnya Malaikat dalam rupa seorang sahabat bernama Dihyah Al-Kalbi r.a. dan dalam bentuk yang lainnya. Dan semuanya tercatat dalam kitab Shahih. Antara hadith Ibnu Umar r.a. beliau berkata yang artinya :

“Malaikat Jibril a.s. pernah mendatangi Nabi saw dalam rupa Dihyah Al-Kalbi.” (HR. An-Nasai)

Keempat :
Dan terkadang wahyu turun dengan cara Allah Taala berbicara langsung kepada Nabi saw dalam keadaan terjaga (tidak tidur), sebagaimana dalam hadits Isra’ Mi’raj yang panjang, yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukahari, dan di dalamnya disebutkan:

”Ketika aku lalu, ada penyeru yang berkata:”Aku telah lakukan kewajibanku dan telah aku ringankan atas hamba-hambaku.”

Hal yang paling penting dalam pembahasan ini yang wajib diyakini dan diimani adalah bahwa Jibril a.s. turun membawa al-Qur’an dengan lafazh al-Qur’an dari awal surat al-Fatihah sampai akhir surat an-Naas, dan bahwa lafaz-lafaz tersebut adalah Kalamullah (firman Allah), tidak ada sedikit pun campur tangan Jibril a.s., dan juga tidak ada juga campurtangan Nabi saw dalam pembuatan dan penyusunannya, tetapi semuanya adalah dari sisi Allah Swt.
Sebagaimana firman Allah Swt  :

الر ۚ كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

“Alif laam raa, (Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Hud :1)

Maka semua lafazh al-Qur’an baik yang tertulis maupun yang dibaca semuanya dari sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan tugas Jibril a.s tidak lain hanyalah sebagai pembawa wahyu sahaja kepada Rasulullah saw. Dan bgitu juga tugas Rasulullah saw ialah memahami, menghafal dan menyampaikannya sahaja. Kemudian menjelaskan maksud wahyu2 tersebut dan mengamalkannya. Allah Swt:
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ
نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ
عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ

“Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’araa’: 192-194)
Baca Juga :
Pengertian Ayat Muhkamah dan Mutasyabbih Serta Jenis dan Contohnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.