Thursday, October 27, 2016

Pengertian Ayat Muhkamah dan Mutasyabbih Serta Jenis dan Contohnya


Mengenai masalah ayat-ayat muhkam dan mutasyabih ini terdapat tiga pendapat:
Pertama: Bahwa al-Qur'an seluruhnya adalah muhkam, mengingat firman Allah:

 كِتَـٰبٌ أُحۡكِمَتۡ ءَايَـٰتُهُ 

"Inilah kitab yang dijelaskan (uhkimat) ayat-ayatnya" (QS. Hud: 1)

Kedua: Bahwa al-Qur'an seluruhnya adalah mutasyabih, mengingat firman Allah:

كِتَـٰبً۬ا مُّتَشَـٰبِهً۬ا مَّثَانِىَ 

"(Yaitu) al-Qur'an yang mutasyabih dan berulang-ulang..." (QS. Az-Zumar: 23)

Ketiga dan yang paling kuat: Ada yang muhkam dan ada yang mutasyabih, dengan beralasan kepada kedua ayat tersebut di atas. Sebab, maksud uhkimat ayatuhu dalam ayat di bawah menjelaskan tentang kesempurnaan al-Qur'an dan tidak adanya pertentangan antar ayat-ayatnya. Sedangkan maksud mutasyabih dalam kebenaran, kebaikan dan kemu'jizatan.

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ مِنۡهُ ءَايَـٰتٌ۬ مُّحۡكَمَـٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلۡكِتَـٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَـٰبِهَـٰتٌ۬‌ۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٌ۬ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَـٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦ‌ۗ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُ ۥۤ إِلَّا ٱللَّهُ‌ۗ وَٱلرَّٲسِخُونَ فِى ٱلۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّ۬ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَا‌ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ

"Dia-lah yang menurunkan Al Kitab [Al Qur’an] kepada kamu. Di antara [isi]nya ada ayat-ayat yang muhkamaat. itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain [ayat-ayat] mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran [daripadanya] melainkan orang-orang yang berakal." (QS. Ali-Imran: 7)

1. Definisinya
Para ulama, masih belum satu kalimat dalam mendefinisikan muhkam dan mutasyabih ini. Diantara beberapa pendapatnya adalah sebagai berikut:

Muhkam ialah ayat yang maksudnya dapat diketahui, baik secara nyata maupun melalui ta'wil. Sedang Mutasyabih ialah ayat yang hanya diketahui oleh Allah seperti masalah Kiamat, munculnya Dajjal dan potongan huruf-huruf hija' di awal surat.

Muhkam ialah ayat yang jelas maknanya, dan mutasyabih ialah ayat yang tidak jelas maknanya.

Muhkam ialah ayat yang hanya mengandung satu pena'wilan dan mutasyabih ialah ayat yang mengandung beberapa kemungkinan penakwilan.

Muhkam ialah ayat yang berdiri sendiri dan mutasyabih ialah ayat yang tidak sempurna pemahamannya kecuali dengan merujuk kepada ayat lainnya.

Muhkam ialah ayat yang tidak dihapuskan dan mutasyabih ialah ayat yang sudah dihapuskan.

2. Contah-Contoh Ayat Muhkamah dan Mutasyabih.
Para ulama memberiikan contoh ayat-ayat Muhkam dalam al-Qur’an dengan ayat-ayat nasikh, ayat-ayat tentang halal, haram, hudud (hukuman), kewajiban, janji dan ancaman. Sementara untuk ayat-ayat mutasyabih mereka mencontohkan dengan ayat-ayat mansukh dan ayat-ayat tentang Asma Allah dan sifat-sifat-Nya, antara lain:

1. Contoh Ayat Muhkamah.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seseorang laki-laki dan seorang perempuan dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal”. (QS. Al-Hujarat: 13)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

Artinya: “Hai manusia, sembahlah tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 21)

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Artinya: “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (QS. Al-Baqarah: 275).

2. Contoh ayat Mutasyabih.

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Artinya: “ Yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas Arsy”. (QS.Thaha: 5).

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

Artinya: “tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali wajah Allah”. (QS. Al-qashash: 88)

يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ

Artinya: “tangan-tangan Allah diatas tangan mereka”. (QS. Al-Fath: 10).

3. Jenis-Jenis Mutasyabih.

1. Mutasyabih dari segi Lafadz
a. Yang dikembalikan kepada lafadz yang tunggal yang sulit pemaknaannya
b. Lafadz yang dikembalikan kepada bilangan susunan kalimatnya, yang seperti ini ada tiga macam :

1. Mutasyabih karena ringkasan kalimat,
2. Mutasyabih karena luasnya kalimat,
3. Mutasyabih karena susunan kalimat.

2. Mutasyabih dari segi maknanya.
Mutasyabih ini adalah menyangkut sifat-sifat Allah, sifat hari kiamat, bagaimana dan kapan terjadinya.semua sifat yang demikian tidak dapat di gambarkan secara konkret karena kejadiannya belum pernah dipahami oleh siapapun.

3. Mutasyabih dari segi lafadz dan makna.
Mutasyabih dalam segi ini menurut As-suyuthi, ada lima macam.

1. Mutasyabih dari segi kadarnya seperti lafaz umum dan khusus.
2. Mutasyabih dari segi caranya, seperti perintah wajib dan sunnah.
3. Mutasyabih dari segi waktu.
4. Mutasyabih dari segi tempat dan suasana ayati itu diturunkan.
5. Mutasyabih dari segi syarat-syarat sehingga suatu amalan itu tergantung dengan ada atau tidaknya syarat yang dibutuhkan, misalnya ibadah shalat dan nikah tidak dapat dilaksanakan jika tidak.

Hikmah Diturunkannya Ayat-Ayat Mutasyabih.
Merangsang Penelitian. Mengharuskan upaya yang lebih banyak untuk mengungkap maksudnya; sehingga dengan demikian akan manambah pahalanya.

Tidak kaku satu penafsiran. Seandaianya al-Qur'an seluruhnya muhkam niscaya hanya ada satu madzhab, sebab kejelasannya itu akan membatalkan semua madzhab yang lainnya. Hal ini akan mengakibatkan para penganut madzhab tidak mau menerima dan memanfaatkannya.
Melahirkan aneka disiplin ilmu untuk dapat memahaminya, seperti ilmu bahasa, gramatika, ma'any, bayan, ushul fiqih dll.

Merangsang kreatifitas Mubaligh. Al-Qur'an berisi da'wah kepada orang-orang tertentu dan umum. Orang awam biasanya tidak menyukai hal-hal yang abstrak. Karena itu jika mereka mendengar sesuatu yang ada tetapi tidak berwujud fisik dan berbentuk, maka ia akan menyangka hal itu tidak benar. Ini menjadi tantangan bagi para penda'wah untuk berfikir lebih dalam mencari cara untuk dapat meyakinkannya.

No comments:

Post a Comment