Rabu, 25 Januari 2017

Makna Banyak Tertawa Mematikan Hati dan Keburukannya

Tawa adalah expresi suara  atau merupakan pencerminan keriangan atau kebahagiaan, atau dalam perasaan dari keceriaan dan tekanan (tawa dalam perasaan). Merupakan hasil dari canda, mengelitik dan simultan lainnya.

Rasulullah Saw telah menerangkan kepada kita tentang bahaya banyak tertawa, yaitu dapat melenyapkan fungsi hati, dimana boleh berubah dari hidup menjadi mati. Rasulullah Saw bersabda:

Dari Abu Hurairah ra dia berkata: Rasulullah Saw bersabda:

لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

“Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (HR. At-Tirmizi , Ibnu Majah, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’)

Yang dimaksud dengan mematikan hati adalah mematikan hati lalai untuk mengingati Allah SWT dan lalai kepada kehidupan akhirat; apabila hati manusia lalai dalam mengingati Allah SWT, maka sesungguhnya kematian lebih dekat kepadanya daripada kehidupan.

Dibolehkan bagi seorang mukmin untuk tertawa dan bersenda gurau dengan sahabat-sahabatnya, sebab Rasulullah Saw pun bersenda gurau dengan sahabat-sahabat baginda, sebagai mana disebutkan dari Anas bin Malik bahwa Nabi Saw bersabda:

“Wahai yang memiliki dua telinga.” Ini adalah gurau Rasulullah Saw kepada Anas ra. Dan dari Anas ra bahwa Rasulullah Saw menyuruh kepada seorang lelaki untuk menunggangi anak unta, maka orang itu berkata: “Apa yang akan saya perbuat terhadap anak unta betina ini? Lalu Rasulullah Saw bersabda: “Bukankah unta betina itu akan melahirkan unta jantan”.

Bagi orang-orang yang memperhatikan kehidupan Rasulullah SAW maka ia akan mengetahui apa yang ia cari bahwa Rasulullah Saw adalah peribadi yang suka senda gurau dan tawa. Akan tetapi baginda bukanlah peribadi yang banyak tertawanya sebagaimana yang diriwayatkan dari Jabir bin Samrah ra, ia berkata: “Bahwa pada kedua betis Rasulullah SAW terdapat kehalusan dan bahwa baginda tidak tertawa kecuali tersenyum”.

Rasulullah Saw dalam senda guraunya tidak berkata-kata kecuali kebenaran, sebab seorang mukmin perlu menghibur diri untuk mengusir kejenuhan dan untuk memperbaharui semangat, para sahabat Rasulullah Saw sering berkumpul hingga mereka saling tertawa dan senda gurau antara satu dengan yang lainnya. Sedangkan bersenda gurau yang berlebihan, melebihi batas yang diperlukan maka ini merupakan kesungguhan, dan hal ini memberi pengaruh besar terhadap perilakunya hingga kehidupannya berubah menjadi cemuhan terhadap dirinya sendiri.

Orang yang konsisten hendaknya bersikap serius dalam menghadapi perkara-perkara hidupnya, tahu waktu untuk bersenda gurau dan setiap sesuatu ia laksanakan sesuai dengan keperluan agar tidak berlebih-lebihan dan juga tidak melalaikan. Apabila seorang yang konsisten terbiasa untuk tertawa dan bersenda gurau maka hatinya pasti menjadi keras, sebagai akibatanya adalah bila dinasihati maka tidak akan berguna baginya nasihat itu di dalam kehidupannya, apabila diingatkan maka ia tidak pernah sadar karena hatinya terlanjur dipenuhi canda, gurau dan tawa, hingga menjadikannya lemah.

Bahkan sebagian ada yang berlebihan dalam hal ini hingga gurau senda itu menjurus pada perbuatan dosa-dosa besar, menghina saudara-saudara muslim dan memperolok-olok mereka hanya untuk mendapatkan tawa dari teman-temannya lalu senda gurau itu berkembang pada perbuatan dusta untuk mendapatkan tawa dari khalayak. Rasulullah Saw bersabda:

“Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta agar orang lain tertawa, celakalah baginya dan celakalah baginya”.(HR Abu Daud, At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

Imam Al-Manawi dalam kitab Faidh Al-Qadhir berkata:

“Kalimat: “Celakalah baginya”, Rasulullah Saw ulang-ulang hingga tiga kali, sebagai pernyataan besarnya azab orang itu, krn perbuatan semacam itu merupakan sumber dari perbuatan hina dan merupakan sumber dari segala perbuatan memalukan, maka jika perbuatan dusta itu dipadukan dengan perbuatan untuk memancing tawa manusia yang dapat mematikan hati dan menyebabkan manusia lupa akan dirinya serta dapat menyebabkan sikap kasar maka perbuatan itu adalah keburukan yang paling buruk”

Rasulullah Saw bersabda,
Dari Aisyah isteri Nabi Saw, bahwa dia berkata:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَجْمِعًا ضَاحِكًا حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ إِنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ

“Saya tidak pernah melihat Rasulullah Saw tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan tenggorokan beliau, beliau biasanya hanya tersenyum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka sederhana bergurau adalah suatu perkara yang sangat penting khususnya dalam kehidupan manusia yang konsisten krn ia memerlukan sikap serius dan krn jalan yang ia tempuh menuntut seperti itu.

Keburukan Tertawa

Banyak ketawa menjadikan hati semakin gelap dan tidak berseri. Lampu hati tidak bersinar dan akhirnya terus tidak menyala. Hati juga tidak berfungsi lagi. Nabi Muhammad Saw melarang umatnya daripada tertawa yang melampaui batas. Ini kerana banyak ketawa menghilangkan akal dan ilmu. Barangsiapa ketawa terbahak-bahak, akan hilang satu pintu daripada pintu ilmu.

Kenapa dilarang ketawa terbahak-bahak? Dalam keadaan suka yang keterlaluan, hati kita lalai dan lupa suasana akhirat dan alam barzah yang bakal kita tempuhi kelak. Dunia hanya tempat tumpangan sementara. Kita menuju ke alam yang belum tentu menjanjikan kebahagiaan abadi. Sepatutnya kita berfikir bagaimana kedudukan kita di sana, sama ada berbahagia atau menderita.

Berbahagia di dunia bersifat sementara, tetapi di akhirat berpanjangan tanpa had. Penderitaan di dunia hanya seketika, tetapi di akhirat azabnya berterusan dan berkekalan. Merenung dan memikirkan keadaan ini cukup untuk kita menghisab diri serta menyedarkan diri kita mengenai bahaya yang akan ditempuh.

Tertawa -tawa di masjid menggelapkan suasana kubur, demikian ditegaskan oleh Rasulullah Saw Kita sedia maklum, kubur ialah rumah yang bakal kita duduki bagi tempoh panjang. Kita kesepian dan kesunyian tanpa teman dan keluarga. Kubur adalah satu pintu ke syurga atau neraka. Betapa dalam kegelapan di sana, kita digelapkan lagi dengan sikap kita yang suka terbahak-bahak di dunia.
 
Ketawa yang melampaui batas menjadikan kita kurang berilmu. Apabila kurang ilmu, akal turun menjadi kurang. Kepekaan terhadap akhirat juga menurun. Nabi pernah bersabda: "Barangsiapa tertawa -tawa niscaya dilaknat akan dia oleh Allah (Al-Jabbar). Mereka yang banyak tertawa di dunia niscaya banyak menangis di akhirat. Saidina Ali sentiasa mengeluh: … jauhnya perjalanan.. . sedikitnya bekalan… Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda, bermaksud: "Barangsiapa banyak tertawa , niscaya meringankan api neraka."

Kita tidak pula dilarang menunjukkan perasaan suka terhadap sesuatu. Cuma yang dilarang ialah berterusan gembira dengan ketawa berlebihan.

Sebaik-baik cara bergembira ialah seperti yang dicontohkan oleh Rasullullah Saw. Baginda tidak terbahak-bahak, tetapi hanya tersenyum menampakkan gigi tanpa bersuara kuat.

Beberapa sahabatnya pernah berkata: Ketawa segala nabi ialah tersenyum, tetapi ketawa syaitan itu terbahak-bahak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.