Wednesday, September 4, 2019

Metode Pengungkapan Qashash (Kisah) dalam Alquran

Alquran merupakan kitab suci terakhir yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw. untuk disampaikan kepada umat-Nya. Dalam kedudukannya sebagai wahyu terakhir untuk umat manusia, Alquran merupakan penyempurna terhadap kitab-kitab suci sebelumnya. Alquran diturunkan sebagai petunjuk yang tidak hanya diperuntukkan pada suatu umat atas golongan tertentu, melainkan untuk seluruh umat manusia. Alquran adalah kitab suci universal yang berlaku untuk ruang dan waktu dalam kehidupan manusia sehingga elastis dan fleksibel dengan tuntutan zaman.

Oleh karena itu, penyajian kisah-kisah dalam Alquran, sesungguhnya tidak hanya merujuk pada kondisi suatu kaum yang menjadi asbabun nuzul turunnya ayat tersebut melainkan memuat petunjuk untuk kaum-kaum sesudahnya.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Alquran Surat Yusuf ayat 111:

لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ ٱلَّذِى بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

laqad kaana fii qashashihim 'ibratun li-ulii l-albaabi maa kaana hadiitsan yuftaraa walaakin tashdiiqa ladzii bayna yadayhi watafshiila kulli syay-in wahudan warahmatan liqawmin yu'minuun

Artinya : “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Alquran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (Q.S. Yusuf: 111)

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa kisah-kisah yang termaktub dalam al-Alquran memiliki faktualitas, kebenaran, hikmah, dan pendidikan nilai-nilai luhur. Keempat hal inilah yang membuat kisah-kisah dalam alAlquran berbeda dengan cerita pada umumnya. Penyampaian pesan dalam kisah-kisah al-Alquran mempunyai maksud dan tujuan tersendiri.

Berbagai metode yang digunakan dalam pengungkapan qashash dalam al Alquran diantaranya:

1. Karena kisah di dalam Alquran dimaksudkan untuk memberi pembelajaran kepada umat manusia, maka untuk mencapai tujuan tersebut biasanya Alquran memulai kisah secara umum, kemudian menguraikan secara rinci dari awal sampai akhir. Metode ini disebut dengan metode deduksi. Sebagaimana kisah Nabi Yusuf As., ketika bercerita tentang Nabi Yusuf As., al-Alquran memulainya dengan ayat ,

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ ٱلْقَصَصِ بِمَآ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ وَإِن كُنتَ مِن قَبْلِهِۦ لَمِنَ ٱلْغَٰفِلِينَ

nahnu naqushshu 'alayka ahsana lqashashi bimaa awhaynaa ilayka haadzaa lqur-aana wa-in kunta min qablihi lamina lghaafiliin

Artinya: “Kami menceritakan kepadamu cerita yang paling baik, dengan mewahyukan Alquran ini kepadamu dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui". (Q.S. Yusuf: 3)


Setelah mengemukakan kebaikan dari cerita yang disampaikan dan menceritakan secara singkat rangkuman kisah Nabi Yusuf, Al-Alquran kemudian menegaskan:

لَّقَدْ كَانَ فِى يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِۦٓ ءَايَٰتٌ لِّلسَّآئِلِينَ

laqad kaana fii yuusufa wa-ikhwatihi aayaatun lissaa-iliin

“Sesungguhnya terdapat beberapa tanda kekuasaan Allah pada Yusuf dan sauda-saudaranya, bagi orang-orang yang bertanya." (Q.S. Yusuf: 7)

Kemudian barulah Alquran menguraikan kisah Nabi Yusuf secara deskriptif sampai selesai

2. Metode hikmah, diawali dengan pengungkapan akhir sebuah kisah dan pelajaran yang dapat diambil melalui kisah itu, kemudian baru diceritakan selengkapnya secara terperinci. Metode ini tercermin dalam kisah Nabi Musa As dalam surat al-Qasas.

3. Metode terpusat, yakni suatu kisah yang diuraikan secara langsung tanpa didahului dengan cerita pembuka dan juga tanpa kesimpulan. Metode ini dapat dilihat pada kisah Maryam, ketika Nabi Isa As. dilahirkan.

4. Melalui cerita dalam bentuk dialog. Dialog yang terjadi dalam kisah-kisah Al-Alquran diangkat dalam bentuk cerita antara tokoh. Bentuk percakapan dalam Al Alquran terdiri dari dua bentuk:

Pertama, percakapan semi dialektis, yaitu percakapan yang cenderung mengarah pada perdebatan. Dialog semacam ini biasanya membawa misi keagamaan, yaitu untuk memberikan informasi kepada kita tentang kekerasan kaum terdahulu dalam menentang ajaran para nabi. Model dialog ini dapat dijumpai dalam cerita kaum ‘Ad, kaum Tsamud, dan Syu’aib.

Kedua, model percakapan pengisahan, yaitu bentuk percakapan dimana Alquran berperan sebagai mediator yang mengajak pembaca masuk ke dalam peristiwa melalui sela-sela cerita.

Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang metode pengungkapan qashash dalam Alquran. Sumber Modul 1 Konsep Dasar Ulumul Quran PPG dalam Jabatan Tahun 2019 Kementerian Agama Republik Indonesia JAKARTA 2019. Kunjungilah selalu www.bacaanmadani.com semoga bermanfaat. Aamiin.

No comments:

Post a Comment