Monday, March 16, 2020

Sejarah Latar Belakang dan Proses Berdirinya Bani Umayyah di Damaskus

Bani Umayyah atau kekhalifahan Umayyah adalah kekhalifahan Islam pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin yang memerintah dari 661-750 M di Jazirah Arab yang berpusat di Damaskus, Syiria, serta dari 756-1031 di Cordoba- Andalusia, Spanyol. Nama dinasti ini diambil dari nama tokoh Umayyah bin Abd Asy Syams. Masa kukuasaan Daulah Bani Umayyah hanya berumur 90 tahun yaitu dimulai pada masa kekuasaan Muawiyah bin Abi Sufyan, di mana pemerintahan yang bersifat Islamiyyah berubah menjadi kerajaan turun temurun (dinasti) setelah Hasan bin Ali bin Abi Thalib menyerahkan jabatan kekhalifahan kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan dalam rangka mendamaikan kaum Muslimin.

Suksesi kepemimpinan secara turun temurun dimulai ketika Muawiyah bin Abu Sufyan mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid bin Muawiyah. Muawiyah bin Abu Sufyan bermaksud mencontoh sistem dinasti diPersia dan Bizantium. Dia memang tetap menggunakan istilah khalifah , namun dia memberikan interprestasi baru dari kata-kata itu untuk mengagungkan jabatan tersebut. Dia menyebutnya “khalifah Allah” dalam pengertian “penguasa” yang diangkat oleh Allah SWT.

Dinasti Umayah berasal dari keturunan Umayah bin Abdul Syams bin Abdul Manaf, pemimpin suku Quraisy terpandang. Mu'awiyah merupakan keturunan Bani Umayah dari keluarga Harb. Ayahnya bernama Abu Sufyan bin Harb, seorang pembenci Nabi Muhammad Saw, yang pada akhirnya masuk Islam dengan terpaksa, yang kemudian diikuti istrinya Hindun binti Utbah. Sedangkan ibunya adalah Hindun binti Utbah, seorang pemakan jantung paman Nabi Muhammad Saw, Hamzah Bin Abdul Mutholib, karena saking bencinya dengan Islam dan Nabi Muhammad saw. Muawiyah masuk Islam pada masa Penaklukkan Makkah (Fathu Makkah) pada tahun 8 H atau 630 Masehi bersama ayahnya, Abu Sufyan bin Harb dan ibunya Hindun binti Utbah. Namun riwayat lain menyebutkan, Muawiyah masuk Islam pada peristiwa Umrah Qadha‟, akan tetapi menyembunyikan keislamannya sampai peritistiwa Fathu Makkah.

Muawiyah termasuk salah seorang sahabat nabi yang cerdas, terbukti semasa nabi menerima wahyu selama 20 tahun lebih, Muawiyah tercatat sebagai penulis wahyu sampai nabi wafat tahun 11 H. Pada masa Abu Bakar, Muawiyah ikut berperang melawan nabi palsu, yakni Musailamah al-Kazzab, yang kemudian dikenal dengan Perang Yamamah, pada tahun 632 M. Pada masa Umar bin Khatab, Muawiyah ditugaskan dan berhasil membebaskan kota Qaisariyah, sebuah kota memilliki benteng pertahanan dan pasukan yang sangat kuat yang terletak di dekat Tel Aviv, Israel. Atas permintaan Yazid bin Abu Sufyan, gubernur Damaskus, Muawiyah membebaskan pesisir Syam yang dikuasi oleh Romawi. Selain itu, Muawiyah pernah diangkat menjadi gubernur Yordania pada 17 H, dan gubernur Damaskus pada 18 H menggantikan saudaranya Yazid bin Abu Sufyan yang meninggal dunia karena terserang wabah Tha’un (Pes).

Muawiyah dikenal sebagai negarawan dan politikus ulung. Ungkapannya tentang hal ini dicatat sejarah, “Aku tidak akan menggunakan pedangku selagi cambukku sudah cukup. Aku tidak akan menggunakan cambukku selagi lisanku masih bisa mengatasinya. Jika ada rambut yang membentang antara diriku dan penentangku, maka rambut itu tidak akan putus selamanya. Jika mereka mengulurkannya, maka aku akan menariknya. Jika mereka menariknya, maka aku akan mengulurnya.” Ia mempunyai kemampuan diplomasi yang sangat tinggi, sehingga Nicholsan dalam bukunya Literaty History of The Arabs menulis, “Muawiyah adalah seorang diplomat yang cakap dibanding dengan Richelieu, politikus Prancis yang terkenal itu.”

Para pakar sejarah mensinyalir bahwa berdirinya Dinasti Umayyah merupakan bentuk sabotase dari pemerintahan yang sah yang pimpin Ali bin Abi Thalib, yakni pemerintahan terakhir Khulafaurrasyidin. Bermula dari rasa tidak puas dan tidak terimanya Muawiyah terhadap pengangkatan Ali bin Abi Thalib oleh mayoritas masyarakat Islam sebagai pengganti khalifah Utsman bin Affan yang meninggal terbunuh. Berbagai cara dilakukan oleh Muawiyah untuk melengserkan Ali bin Abi Thalib dari pemerintahannya. Salah satu yang dilakukan oleh Muawiyah dan kelompoknya adalah memfitnah Ali dengan menyebarkan isu bahwa Ali-lah yang berada di balik terbunuhnya Usman bin Affan. Beberapa pembesar umat Islam saat itu, seperti Siti Aisyah, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah termakan oleh isu ini dan mengumumkan perang terhadap Ali bin Abi Thalib. Keyakinan mereka terhadap isu bahwa Ali bin Abi Thalib sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kematian Utsman bin Affan diperkuat oleh ketegasan Ali bin Abi Thalib yang mengatakan bahwa Dia tidak tahu menahu tentang kematian Utsman bin Affan. Mereka kemudian mengangkat perang terhadap Ali bin Abi Thalib dengan tujuan memaksa Ali untuk mengakui perbuatannya. Perang terjadi di Basra, Irak pada tahun 656 M. Perang tersebut kemudian dikenal dengan sebutan perang Jamal, karena Siti Aisyah mengendarai unta pada saat memimpin perang. Kemenangan perang berada di pihak Ali bin Abi Thalib karena dukungan mayoritas masyarakat Islam.

Kemenangan kelompok Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal tidak membuat surut nyali Muawiyah untuk menggulingkannya. Kelompok Muawiyah kemudian membuat propaganda untuk menghancurkan pemerintahan Ali dengan cara menghimpun kekuatan yang lebih besar lagi dengan tujuan menyerang Ali bin Abi Thalib. Tantangan Muawiyah dijawab oleh Ali dengan mempersiapkan pasukan. Perang berkecamuk tak terhindarkan danmenelan banyak korban di antara kedua belah pihak yang bertikai. Perang tersebut dalam sejarah dikenal dengan nama perang Shiffin, karena bentrokan terjadi di wilayah Siffin, daerah Raqqa (kini masuk wilayah Suriah), pada tahun 37 H atau 657 M. Kemenangan lagilagi berada di pihak Ali bin Abi Thalib karena dukungan mayoritas masyarakat Islam.

Kekalahan pada perang Siffin, lagi-lagi tidak membuat hati Muawiyah surut untuk mengalahkan Ali bin Abi Thalib. Muawiyah tidak menerima kemenangan khalifah Ali bin Abi Thalib. Sikap tidak mau menerima kekalahan itu di wujudkan dengan mengajak damai khalifah Ali bin Abi Thalib. Ajakan berdamai Muawiyah itu diajukan kepada Ali bin Abi Thalib sampai tiga kali dengan cara membujuk dan merobek-robek al-Qur’an. Pada akhirnya Ali bin Abi Thalib bersedia berdamai setelah melihat al-Qur’an dirobek-robek oleh Muawiyah.

Skenario perdamaian pun diatur oleh Muawiyah atas ide dan gagasan Amru bin Ash. Kubu Muawiyah dan kubu Ali bin Abi Thalib sepakat bertemu untuk melakukan perundingan damai (tahkim) di Kota Dumatul-Jandal, yang secara geografis terletak di antara Madinah dan Damaskus (kini masuk wilayah Arab Saudi). Delegasi Muawiyah berjumlah 400 orang, sebagian di antaranya para sahabat Nabi, dipimpin oleh Amru bin Ash; delegasi Ali bin Abi Thalib berjumlah 400 orang, sebagian di antaranya para sahabat Nabi, dipimpin oleh Abu Musa al-Asy’ari.

Sebelum puncak perundingan damai itu, terjadi dialog antara Abu Musa Al-Asy'ari dan Amru bin Ash, sebagai berikut.

Abu Musa Al-Asy'ari sempat menawarkan untuk mengangkat Abdullah bin Umar. Tapi Amru bin Ash menjawab dengan pertanyaan: “Kenapa bukan anak saya saja, yang Anda mengenalnya?” 

Abu Musa Al-Asy'ari menjawab: “Dia (putra Amru bin Ash) adalah orang jujur, tapi Anda sudah mencocokinya dan merusaknya dengan fitnah”. 

Amru bin Ash menimpali: “Kekhalifaan ini hanya untuk lelaki yang memiliki geraham untuk makan (kuat), dan dia (Abdullah bin Umar) memiliki cacat”. 

Kemudian Abu Musa Al-Asy'ari berkata, “Wahai Amru bin Ash, bangsa Arab mengandalkan Anda setelah terjadi pertempuran dengan pedang, dan janganlah Anda mendorong umat untuk kembali ke fitnah/pertempuran”. 

Amru bin Ash menjawab: “Lantas bagaimana pendapat Anda, wahai Abu Musa AlAsy’ari?” 

Abu Musa Al-Asy'ari berkata, “Saya berpendapat bahwa kita berdua (lebih dulu harus) mencopot dua khalifah itu (Ali Abu Thalib dan Muawiyah) dari jabatan khalifah, kemudian kita serahkan kepada umat untuk memilih khalifah yang mereka yang inginkan”. 

Amru bin Ash menjawab: “Saya setuju dengan pandangan/usulan Anda”.

Lalu keduanya berjalan ke tengah para hadirin, yang sedang menunggu hasil perundingan damai (Tahkim) tersebut. Dan Amru bin Ash sudah sejak awal meminta dan mendorong Abu Musa Al-Asy'ari untuk berbicara lebih dulu di depan hadirin, dengan alasanlebih dulu masuk Islam dan faktor usia yang lebih tua, dan berkata: “Wahai Abu Musa, silahkan memberitahu kepada hadirin tentang kesepakatan kita”.

Lalu Abu Musa mengumumkan, “Kami berdua mencapai suatu kesepakatan, dan berdoa semoga Allah menjadikannya sebagai kesepakatan yang mendamaikan umat”.

Saat itu, Ibnu Abbas dari kubu Ali bin Abu Thalib, mencoba menasehati Abu Musa Al-Asy'ari dengan mengatakan, “Amru bin Ash telah menipumu, jangan mau bicara duluan di depan hadirin. Biarkan Amru bin Ash yang bicara duluan!” Namun Abu Musa Al-Asy'ari menolak permintaan Ibnu Abbas.

Kemudian di depan hadirin dari dua kubu yang berjumlah sekitar 800 orang, Abu Musa Al-Asy'ari mengumumkan, “Kami berdua telah mencapai kesepakatan, yang kami nilai sebagai kesepakatan yang terbaik untuk umat, yaitu masing-masing dari kami berdua lebih dulu akan mencopot Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah dari jabatan khalifah. Setelah itu, menyerahkan kepada umat Islam untuk memilih khalifah yang mereka sukai. Dengan ini, saya nyatakan telah mencopot Ali bin Abu Thalib sebagai khalifah”.

Dan seperti yang diduga Ibnu Abbas, begitu tiba giliran Amru Ash berbicara, di depan semua hadirin, dia berkata, “Kalian telah mendengarkan sendiri, Abu Musa Al-Asy’ari telah mencopot Ali bin Abu Thalib, dan saya sendiri juga ikut mencopotnya seperti yang dilakukan Abu Musa Al-Asy’ari. Dengan demikian, dan mulai saat ini juga, saya nyatakan bahwa Muawiyah adalah khalifah, pemimpin umat. Muawiyah adalah pelanjut kekuasaan Usman bin Affan dan lebih berhak menggantikannya”.

Mendengar pernyataan Amru bin Ash tersebut, Ibnu Abbas langsung membentak Abu Musa Al-Asy‟ari, yang kemudian dia menjawab: “Saya mau bilang apa lagi, tidak ada yang bisa saya lakukan, Amru bin Ash telah menipuku", dan kemudian dia mulai mencaci dengan mengatakan, “Wahai Amru bin Ash, celaka kamu, kamu telah menipu dan berbuat jahat”.

Dua orang dari kubu Ali bin Thalib, yaitu Syarih dan Ibnu Umar sempat memukul Amru bin Ash dengan pedang, tapi kemudian dilerai oleh para hadirin. Dapat dibayangkan betapa kacau dan gaduhnya pertemuan Tahkim tersebut. Seluruh jajaran kubu Ali bin Abu Thalib tentu akan kecewa. Sebaliknya, kubu Muawiyah akan senang bersuka ria.

Setelah kejadian aneh dan kacau itu, Abu Musa Al-Asy'ari meninggalkan kota Dumatul-Jandal menuju Makkah. Sementara Amru bin Ash dan anggota delegasinya meninggalkan Dumatul-Jandal untuk menemui dan memberitahu Muawiyah tentang hasil pertemuan Tahkim dan sekaligus mengucapkan selamat kepada Muawiyah sebagai khalifah. Dan inilah awal kekuasaan Dinasti Umawiyah di Damaskus.

Sementara Ibnu Abbas dan Syarih menemui Ali bin Abu Thalib untuk memberitahu hasil pertemuan Tahkim. Dan sejak itu, setiap menunaikan shalat subuh, Ali bin Abu Thalib melakukan qunut dengan doa yang berbunyi: “Ya Allah, jatuhkan laknat-Mu kepadaMuawiyah, Amru bin Ash, Habib, Abdurrahman bin Mukhlad, Ad-Dhahhak bin Qayyis, AlWalid, dan Abu Al-A’war”.

Setelah mendengar kabar tentang doa qunut Ali bin Abu Thalib, akhirnya Muawiyah juga melakukan qunut dengan doa yang berbunyi “Ya Allah, jatuhkan laknat-Mu kepada Ali bin Abu Thalib, Ibnu Abbas, Hasan, Husain, dan Asytar”

Sikap damai Ali bin Abi Thalib ternyata tidak memberi perdamaian yang sesungguhnya, justru menambah sejarah panjang pertikaian Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah. Kelompok Ali bin Abi Thalib justru kemudian pecah menjadi tiga kelompok, yaitu:

a. Kelompok Khawarij, pengikut-pengikut Ali bin Abi Thalib yang tidak setuju dengan sikap Ali bin Abi Thalib dalam menerima perdamaian (arbitrase) sebagai jalan untuk menyelesaikan persengketaan tentang khilafah dengan Muawiyah bin Abi Sufyan. Kelompok ini tinggal di dekat kota Kuffah, Irak. Mereka dipimpin oleh Abdullah Ibn Wahab Al-Rasidi;

b. Kelompok Syiah, pengikut-pengikut Ali bin Abi Thalib yang setuju dan membela sikap Ali bin Abi Thalib menerima perdamaian (arbitrase); dan

c. Kelompok Murji'ah, pengikut-pengikut Ali bin Abi Thalib yang mengambil jalan tengah dengan sikap diam, tidak mau turut campur dalam pertentangan yang terjadi antara Khawarij dan Syiah, dan mengambil sikap menyerahkan penentuan hokum kafir atau tidak kafirnya orang yang bertentangan itu kepada Tuhan.

Situasi ini dimanfaatkan oleh Muawiyah dengan cara memfungsikan kelompok keras Khawarij untuk membunuh khalifah Ali bin Abi Thalib. Sampai akhirnya diketahui seorang pengikut garis keras Khawarij bernama Abdur Rahman bin Muljam pada suatu pagi setelah sholat Subuh menusuk khalifah Ali bin Abi Thalib hingga wafat. Berita wafatnya Ali bin Abi Thalib disambut dengan suka cita oleh pihak Muawiyah, karena dengan demikian Bani Umayyah yang telah diproklamirkan pada tahun 40 H akan menjadi eksis dan menjadi satu-satunya pemerintahan yang sah dalam Islam.

Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang latar belakang dan proses berdirinya bani Umayyah di Damaskus. Sumber Modul 4 Perkembangan Islam Sesudah Masa Khulafaur Rasyidin, Pendidikan Profesi Guru dalam Jabatan Kementerian Agama Republik Indonesia 2018.  Kunjungilah selalu www.bacaanmadani.com semoga bermanfaat. Aamiin.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin Segera Bisa? Klik disini Sekarang!

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.