Friday, September 20, 2019

Komponen-Komponen Dasar Pendekatan Tafsir Kontekstual

Upaya perumusan kembali nilai Al-Quran untuk memenuhi tantangan dan kebutuhan yang berbeda-beda di setiap masa, maka perhatian yang mendalam hendaklah diarahkan kepada empat komponen pokok yang saling terkait erat. Adapun empat komponen tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, konteks literer Al-Quran. maksudnya adalah konteks di mana suatu tema atau istilah tertentu muncul di dalam Al-Quran, mencakup ayat-ayat sebelum dan sesudah tema atau terma itu yang merupakan konteks langsungnya serta rujukan silang kepada konteks-konteks relevan dalam surat-surat lain. Pada batas-batas tertentu, konteks literer juga mencakup penelusuran keragaman tradisi teks (rasm) dan bacaan Al-Quran (qira’ah) yang relevan dengan ayat-ayat yang dicoba pahami untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentangnya.

Kedua, Konteks historis Al-Quran yang merupakan latar kesejarahan Al-Quran baik yang bersifat makro maupun mikro. Konteks historis makro adalah latar kesejarahan tidak langsung atau mileu yang berupa situasi masyarakat, agama, adat istiadat, pranata-pranata, relasi-relasi politik, dan bahkan kehidupan secara menyeluruh di Arabia sampai kepada kehidupan Nabi Muhammad saw sendiri, terutama Makkah dan Madinah menjelang dan pada saat pewahyuan Al-Quran.

Sedangkan konteks historis mikro adalah latar kesejarahan langsung teks-teks spesifik Al-Quran yang direkam dalam apa-apa yang disebut mawathin al-nuzul (tempat-tempat turun), sya’n al-nuzul (situasi turun) dan asbab al-nuzul (sebab sebab turun) Al-Quran.

Ketiga, konteks kronologis Al-Quran. Maksudnya kronologis pewahyuan bagian-bagian Al-Quran tentang suatu tema atau istilah tertentu yang akan memperlihatkan bagaimana tema tersebut berkembang dalam bentangan pewahyuan Al-Quran selama lebih kurang 23 tahun seirama dengan perkembangan misi kenabian Muhammad saw dan komunitas Muslim. Di dalam tradisi ‘Ulum Al-Quran, aspek kronologis ini setidaknya telah dicakup oleh ilmu tawarikh annuzul, ilmu al-makki wa al-madani dan ilmu al-naskh.

Keempat, konteks spasio-temporal yang merupakan konteks ruang dan waktu yang menjadi lahan pengimplementasian gagasan-gagasan Al-Quran. Di sini, situasi kontemporer harus diteliti secara cermat terkait berbagai unsur komponennya, sehingga dapat dinilai dan diubah sejauh diperlukan, serta dapat dideterminasi prioritas-prioritas baru untuk implementasi nilai-nilai Al-Quran secara segar dan bermakna.

Dapat dilihat bahwa konteks literer Al-Quran berada di wilayah sastra dan kebahasaan; konteks historis Al-Quran berada di wilayah sosiologi, antropologi, dan geografi; konteks kronologis Al-Quran berada di wilayah sejarah dan arkeologi; konteks spasio-temporal dewasa ini tetap sangat bergantung pada kualitas kajian- kajian keilmuan, kemasyarakatan, dan kebudayaan dalam artinya yang lebih spesifik.

Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang komponen-komponen dasar pendekatan Tafsir kontekstual. Sumber Modul 4 Konsep Tawassuth, Tawazun dan Tasamuh dalam Al Quran Hadis PPG dalam Jabatan Tahun 2019 Kementerian Agama Republik Indonesia JAKARTA 2019. Kunjungilah selalu www.bacaanmadani.com semoga bermanfaat. Aamiin.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin Segera Bisa? Klik disini Sekarang!

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.