Thursday, October 15, 2015

Tahun Baru Islam Bukan Untuk Hura-Hura



Allah telah memuliakan bulan hari Jum’at dari hari-hari lainnya, begitupula hari Arafah, hari Tasyriq, dan 10 Zulhijjah serta 10 hari terakhir Ramadhan, Lailatul Qadar, dengan keutamaan dari seluruh hari dan malam. Begitu pula Allah memuliakan suatu bulan dari bulan-bulan lainnya, sebagaimana kita ketahui bahwa secara khusus memuliakan bulan Ramadhan, serta bulan-bulan yang diharamkan untuk berperang dengan keutamaan yang lebih utama dari bulan-bulan yang lain. Allah telah memuliakan pula bulan Muharram, bulan pertama yang mengawali tahun Hijriayah.
Tidak seperti tahun baru Masehi, tahun baru Hijriyah tidak dimeriahkan dengan petasan dan kembang api. Tidak disemarkkan dengan kemaksiatan dan hura-hura. Tetapi kita jadikan sebagai momen untuk memuhasabah diri kita, terutama tentang keimanan dan ketakwaaan kita tahun yang lalu untuk meningkatkannya untuk tahun-tahun yang akan datang. Jadi momen juga tepat untuk mengukur keberhasilan usaha yang kita jalani.
Tahun Hijriyah mmerupakan momentum strategis bagi upaya kita membumikan nilai-nilai hijriyah itu sendiri dalam kehidupan manusia. Menegakkan kalimatullah di bumipertiwi. Muharram menjadi tonggak penting dalam upaya mengikat tali Ukhwah Islamiyah. Ketika umat Islam sadar dan mulai bangkit dari kemundurannya. Meskipun terlambat meraihnya, disitulah pesan-pesan Muharram menjadi penting dalam mengawali tahun baru umat Islam.
Yang perlu kita renungkan pada tahun baru ini adalh sikapdan keinginan untuk berbuat lebih baik dari hari-hari kemaren. Harus ada kemauan keras untuk melihat kembali masa-masa yang telah lewat sebagai proses instropeksi diri dengan kebaikan di masa-masa yang akan datang. Sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda:

“jagalah lima sebelum datang lima: Masa mudamu sebelum mas tuamu, masa seahtamu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa sempatmu sebelum datang masa sempitmu, dan masa hidupmu sebelum datang mautmu”(HR. Hakim dan Ibnu Mubarak dengan sanad soheh)

Sumber: Hari-Hari Besar Islam, Drs. Shalahuddin Hamid, MA.

No comments:

Post a Comment