Saturday, April 28, 2018

Pandangan Hadis dan Ulama Tentang Ya’juj dan Ma’juj

Dalam kamus Lisanul-’Arab kata Ya’juj dan Ma’juj berasal dari kata ajja atau ajij dalam wazan Yaf’ul. Kata ajij artinya nyala api. Tetapi kata ajja berarti pula asra’a, maknanya berjalan cepat. Ya’juj dan Ma’juj dapat pula diibaratkan sebagai api menyala dan air bergelombang, karena hebatnya gerakan.
A. Pandangan Hadis tentang Ya’juj dan Ma’juj.
1. Hadits Riwayat Muslim.

عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ وَهُوَ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدْ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ وَعَقَدَ سُفْيَانُ بِيَدِهِ عَشَرَةً قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ

Bahwa Rasulullah bangun dari tidurnya sambil bersabda: "Laa ilaaha illallah, celakalah orang-orang Arab kerana suatu bencana akan terjadi, yaitu hari ini dinding menahan Ya’juj dan Ma’juj telah terbuka sebesar ini. Dan Sufyan (perawi hadis ini) melingkarkan jarinya membentuk angka sepuluh (membuat lingkaran dengan jari telunjuk dan ibu jari). Aku (Zainab binti Jahsy) bertanya:
"Wahai Rasulullah, apakah kita semua akan binasa padahal di antara kita banyak terdapat orang-orang saleh?" Beliau menjawab: "Ya, jika banyak terjadi kemaksiatan." (HR. Muslim)

2. Hadits Riwayat Ibnu Majah.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُفْتَحُ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ فَيَخْرُجُونَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى { وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ } فَيَعُمُّونَ الْأَرْضَ وَيَنْحَازُ مِنْهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى تَصِيرَ بَقِيَّةُ الْمُسْلِمِينَ فِي مَدَائِنِهِمْ وَحُصُونِهِمْ وَيَضُمُّونَ إِلَيْهِمْ مَوَاشِيَهُمْ حَتَّى أَنَّهُمْ لَيَمُرُّونَ بِالنَّهَرِ فَيَشْرَبُونَهُ حَتَّى مَا يَذَرُونَ فِيهِ شَيْئًا فَيَمُرُّ آخِرُهُمْ عَلَى أَثَرِهِمْ فَيَقُولُ قَائِلُهُمْ لَقَدْ كَانَ بِهَذَا الْمَكَانِ مَرَّةً مَاءٌ وَيَظْهَرُونَ عَلَى الْأَرْضِ فَيَقُولُ قَائِلُهُمْ هَؤُلَاءِ أَهْلُ الْأَرْضِ قَدْ فَرَغْنَا مِنْهُمْ وَلَنُنَازِلَنَّ أَهْلَ السَّمَاءِ حَتَّى إِنَّ أَحَدَهُمْ لَيَهُزُّ حَرْبَتَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَتَرْجِعُ مُخَضَّبَةً بِالدَّمِ فَيَقُولُونَ قَدْ قَتَلْنَا أَهْلَ السَّمَاءِ فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللَّهُ دَوَابَّ كَنَغَفِ الْجَرَادِ فَتَأْخُذُ بِأَعْنَاقِهِمْ فَيَمُوتُونَ مَوْتَ الْجَرَادِ يَرْكَبُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا فَيُصْبِحُ الْمُسْلِمُونَ لَا يَسْمَعُونَ لَهُمْ حِسًّا فَيَقُولُونَ مَنْ رَجُلٌ يَشْرِي نَفْسَهُ وَيَنْظُرُ مَا فَعَلُوا فَيَنْزِلُ مِنْهُمْ رَجُلٌ قَدْ وَطَّنَ نَفْسَهُ عَلَى أَنْ يَقْتُلُوهُ فَيَجِدُهُمْ مَوْتَى فَيُنَادِيهِمْ أَلَا أَبْشِرُوا فَقَدْ هَلَكَ عَدُوُّكُمْ فَيَخْرُجُ النَّاسُ وَيَخْلُونَ سَبِيلَ مَوَاشِيهِمْ فَمَا يَكُونُ لَهُمْ رَعْيٌ إِلَّا لُحُومُهُمْ فَتَشْكَرُ عَلَيْهَا كَأَحْسَنِ مَا شَكِرَتْ مِنْ نَبَاتٍ أَصَابَتْهُ قَطُّ

dari Abu Sa'id Al Khudri, bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Ya'juj dan Ma'juj akan dibukakan (jalan keluarnya), lantas mereka keluar sebagaimana yang difirmankan oleh Allah: '(Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya'juj dan Ma'juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi) ' (Qs. Al Anbiyaa; 96).

Kemudian mereka menguasai bumi seluruhnya dan sebagian kaum Muslimin berpihak ke golongan mereka, sehingga sisanya berada di kota-kota dan benteng-benteng beserta hewan ternak mereka. Ketika mereka melintasi sungai, maka mereka minum dari air sungai tersebut, sehingga mereka tidak menyisakan sesuatu pun di dalamnya. Lalu kelompok yang terakhir dari mereka melintas, maka salah seorang dari kelompok tersebut berkata, 'Sungguh, dahulu tempat ini mengalirkan banyak air!'

Kemudian muncullah seorang dari mereka di atas bumi sambil berkata, 'Mereka semua adalah penguasa bumi, dan kami telah selesai (mengalahkan) mereka, dan sungguh kami akan menantang penduduk langit.' Sehingga seorang dari mereka melemparkan tombaknya ke langit, maka tombak tersebut kembali dengan lumuran darah."

Lalu mereka berkata, 'Kita telah membunuh penghuni langit.' Ketika mereka dalam keadaan seperti ini, Allah mengutus sekawanan binatang seperti ulat (belatung) pada belalang, lalu menyerang leher-leher mereka sehingga mereka mati bergelimpangan layaknya matinya belalang, dan mereka saling bertumpukan. Pada pagi harinya, kaum muslimin tidak mendengar suara mereka, maka mereka bertanya, 'Siapakah kiranya seorang laki-laki yang menggadaikan dirinya dan melihat apa yang mereka perbuat? ' maka turunlah seorang laki-laki dari mereka yang menyiapkan dirinya untuk mereka bunuh, namun laki-laki itu mendapati mereka telah mati terbunuh, maka ia pun berseru kepada mereka (kaum Muslimin), 'Bergembiralah, musuh kalian telah binasa! ' Maka orang-orang pun keluar dan melepaskan ternak-ternak mereka. Tidaklah mereka memiliki binatang ternak kecuali hanya tersisa daging-dagingnya saja, lantas ia bersyukur atasnya sebagaimana sebaik-baiknya syukur dari tumbuh-tumbuhan yang tidak pernah mendapatkan siraman air." (HR. Ibnu Majah)
Baca Juga :
B. Pandangan Ulama tentang Ya’juj dan Ma’juj

1. Ahmad Mustafa al Maragi.
Ahmad Mustafa al Maragi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Yakjuj adalah Tatar dan Makjuj adalah Mongol. Mereka berasal dari satu bapak yang bernama Turk, bertempat tinggal di bagian utara asia. Daerah mereka memanjang dari Tibet sampai Cina hingga ke Laut Baku Utara, di barat sampai Turkestan. Di berbagai zaman, bangsa-bangsa ini sering menyerang, membuat kerusakan di muka bumi, dan menghancurkan bangsa-bangsa lain. Di antara mereka terdapat bangsa-bangsa yang kejam, turun dari bukit-bukit di Asia Tengah dan pergi ke Eropa pada masa dahulu, seperti bangsa Smith, Sumeria, dan Hun. Mereka banyak menyerang negeri-negeri Cina dan Asia Barat. Dengan munculnya Temujin yang dijuluki dengan nama lengkap Jengis Khan (bahasa mongol=Raja Alam; 1167-1227), pada awal abad ke-7 H/ke-12 M, ia berikut tentaranya yang perkasa keluar jauh ke Asia Tengah. Ia menundukan Cina Utara kemudian pergi ke negeri-negeri Islam, lalu menundukan sultan Quthbuddin bin Armilan, salah seorang raja seljuk, yang menganut aliran Khawariz. Jengis Khan melakukan kekejaman yang belum pernah ada sebelumnya di negeri ini.

2. Imam Hambali.
Musnad Imam Ahmad bin Hambal, seperti dikutip ibnu Katsir, menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda: ‘Nuh memiliki 3 orang anak yaitu Sam, nenek moyang orang Arab, Ham nenek moyang orang Sudan, dan Yafis nenek moyang orang Turk’. Menurut sebagian ulama, Ya’juj dan Ma’juj adalah keturunan Yafis putera Nuh ini.Demikian juga pendapat an Nasafi (w. 710/1310 M), seorang ahli Fiqh, Ushul Fiqh dan Tafsir yang bermahzab Hanafi yang ia lebih merinci lagi bahwa Yakjuj berasal dari suku Turk, sedangkan Makjuj berasal dari suku Jail serta dalam keturunan Yafis yang membuat kerusakan di muka bumi. Mereka tidak mati dan masing-masing memiliki seribu keturunan yang diperlengkapi dengan senjata.

3. Hamka.
Prof. DR Hamka, memberi tafsiran bahwa Ya’juj dan Ma’juj adalah segala gerak yang telah dan hendak merusak dunia ini. Karena itu, baik diri, keluarga maupun negara wajib membuat tirai besi sebagai benteng agar Ya’juj dan Ma’juj tidak masuk.Mungkin Ya’juj dan Ma’juj dapat ditafsirkan dengan pikiran jahat, maksud buruk, dan ideologi yang menyesatkan yang dianut oleh sebagian manusia.Manusia yang menganutnya dengan kelicikan jahatnya bisa mempergunakan manusia sesamanya menjadi alat untuk merusak bumi.Sebab itu, pikiran yang baik, cita-cita yang mulia, dan ideologi yang sehat harus ditanamkan dengan teguh pada setiap diri, keluarga, dan negara serta bangsa untuk membentengi Ya’juj dan Ma’juj.Ya’juj dan Ma’juj laksana air, senantiasa mencari tempat untuk masuk walaupun hanya sebesar lubang jarum.

4. Harun Yahya.
Menurut Harun Yahya, Yakjuj dan Ma’juj berkemungkinan merujuk kepada peperangan Dunia pertama dan kedua. Ini berdasarkan Hadis manusia di bakar disisi Ya’juj dan Ma’juj serta panah dan perisai(senjata) mereka sejauh tujuh tahun perjalanan(kecepatan). Dan turunnya mereka dari tempat tempat yang tinggi.

Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang pandangan hadis dan ulama tentang Ya’juj dan Ma’juj. Sumber buku Ilmu Kalam Kelas XI MA Kementerian Agama Republik Indonesia, 2015. Kunjungilah selalu www.bacaanmadani.com semoga bermanfaat. Aamiin.

No comments:

Post a Comment